for my sexy love..

August 4th, 2006 by heardemsay

i miss u very very hard sexy love..

4 hari gk ngeliat wajah cantiknya bikin diriku kangen berat..

sexy love!!!

ciao……

July 16th, 2006 by heardemsay

Rob Hughes 

Pesta Telah Usai 

Tandukan kepala Zinedine Zidane terhadap Marco Materazzi menjadi peristiwa yang paling diingat sepanjang Piala Dunia 2006. Munculnya berbagai spekulasi di media massa membuat kasus ini terasa lebih menghebohkan ketimbang fakta yang terjadi di lapangan hijau.

Para jurnalis yang penasaran mencoba menebak kejadian sebenarnya pada laga final Germany 2006. Mereka bahkan menyewa ahli pembaca bibir untuk mengetahui apa yang dikatakan Materazzi sehingga membuat seorang pemain terhebat dunia menanduk dadanya.

Well, saya yakin kita tidak akan pernah tahu apa yang dikatakan Zidane dan Materazzi. Sejujurnya, saya juga tidak peduli. Zidane bertingkah laku bak seorang preman jalanan. Ini bukan pertama kali ia mengkhianati reputasinya dengan bertindak brutal. Apa yang dilakukan Zidane benar-benar tidak dapat dimaafkan.

Presiden Prancis, Jacques Chirac, menganggap Zidane sebagai sosok yang luar biasa. Saya setuju. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya tahu Zidane pria yang rendah hati.

Namun, fakta tersebut tidak bisa dijadikan alasan bagi Zizou untuk bertindak semaunya atau bagi keputusan FIFA, yang memilihnya sebagai Pemain Terbaik Germany 2006. Surat kabar Prancis, L’equipe, merupakan salah satu media massa yang berani mempertanyakan sikap Zizou.

Dengan sikap menyindir, surat kabar tersebut mengeluarkan pernyataan bahwa Zidane adalah seorang idola, jadi jangan mencoba menjatuhkannya. Namun, di bagian lain, L’equipe juga mempertanyakan apa yang akan diceritakan Zidane kepada anak-anaknya dan dunia tentang tingkah laku buruk yang ditunjukkannya.

Bagaimana kita bisa menilai kesuksesan Piala Dunia? Kekerasan yang dilakukan di pengujung turnamen membuat gol indah Philipp Lahm di partai perdana Germany 2006 seakan dilakukan di ajang yang berbeda.

Baik dan Buruk
Kita telah menyaksikan berbagai pelanggaran dan tingkah para bintang lapangan hijau yang gemar mendramatisasi suatu kejadian. Sementara itu, para wasit memulai turnamen dengan sangat baik. Seperti halnya pemain, mereka mulai kehilangan tenaga di bawah cuaca yang sangat panas dan lembap.

Namun, salah satu pemandangan terburuk di Piala Dunia 2006 adalah tingkah para pemain yang memohon-mohon agar wasit mengeluarkan pemain lawan. Jika itu yang dinamakan olahraga, lebih baik saya tidak ikut campur.

Satu-satunya hal indah yang mungkin tidak pernah kita saksikan sebelumnya adalah sikap masyarakat Jerman yang berani membuka diri kepada dunia. Pihak panitia memasang layar raksasa di taman-taman dan pusat kota agar penggila sepakbola yang tidak memiliki tiket tetap bisa menjadi bagian dari turnamen sepakbola paling bergengsi ini.

Saya akui ketika seseorang memberitahu bahwa Jerman akan menyediakan bir dan hiburan gratis kepada jutaan suporter sepakbola, saya berpikir hal itu adalah tindakan tergila yang pernah saya dengar. Para hooligan pasti akan membayar keramahan Jerman dengan aksi brutal.

Ternyata saya salah. Segelintir pembuat onar berhasil dikalahkan oleh dua juta orang yang datang ke Jerman untuk bersenang-senang.

Piala Dunia adalah jambore selama satu bulan penuh. Sebuah contoh bagus tentang bagaimana orang-orang yang berasal dari negara yang berbeda mampu berbagi keramahan yang ditawarkan warga Jerman.

Saya harus menjadi tamu kehormatan atau bahkan membayar untuk bisa berada di dalam stadion. Tetapi, kenangan terbaik saya adalah berbagi tontonan dengan 700 ribu orang di Gerbang Brandenburg di kota Berlin.

Tidak semua orang yang datang ke tempat itu merupakan pencinta sejati sepakbola. Sebagian dari mereka hanya datang untuk menikmati pertunjukan gratis. Namun, penggemar sepakbola sebenarnya, yang merasa kesal karena FIFA memberikan ribuan tiket untuk tamu-tamu khusus, tetap berkumpul di barisan depan.

Germany 2006 telah membuka sebuah dimensi baru. Di sisi lain, kesuksesan Jerman membuat kita semakin skeptis apakah Afrika Selatan mampu menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 yang jauh lebih baik? Apakah mereka memiliki infrastruktur yang mampu menyediakan keamanan yang memadai?

Untuk alasan tersebut, apakah Amerika, yang diramalkan bakal mengambil alih penyelenggaraan Piala Dunia jika Afrika tidak mampu, bersedia menyambut gelombang suporter sepakbola yang datang? Seperti yang disebutkan salah seorang pegawai FIFA kepada saya, pihak imigrasi Amerika kerap bersikap paranoid.

Pujian pantas ditujukan kepada Jerman. Mereka memanfaatkan Piala Dunia untuk memperlihatkan wajah yang lebih ramah kepada dunia dan mempertahankannya sejak awal hingga akhir turnamen.

Kesalahan Amerika Latin
Di lapangan, Argentina tetap menjadi tim yang paling menghibur. Inggris tidak mampu berbuat banyak. Jerman berubah ke arah yang positif di bawah arahan pelatih Juergen Klinsmann dan Italia memang pantas menyandang gelar juara dunia.

Mulai dari Gianluigi Buffon, kiper yang tidak pernah membuat kesalahan, Fabio Cannavaro, sang pemain belakang terbaik sepanjang turnamen, hingga Andrea Pirlo, gelandang paling kreatif. Wajar Italia disebut sebagai tim dengan kekuatan yang paling merata di setiap lini.

Meski hanya mampu menahan imbang Amerika Serikat di partai penyisihan grup, Italia berhasil menunjukkan penampilan yang luar biasa kala menyingkirkan Jerman di semifinal.

Brasil seakan asing dengan ritme asli mereka. Apa yang terjadi dengan senyum Ronaldinho? Saya ragu dengan pernyataan Ronaldinho, yang mengaku datang ke Piala Dunia hanya untuk membantu para striker, bukan untuk menciptakan gol. Jika itu adalah perintah dari atasan, artinya pelatih Carlos Alberto Parreira telah membuat kesalahan fatal.

Pertandingan terbaik pilihan saya adalah Meksiko versus Argentina. Duel yang berlangsung di Leipzig ini menampilkan permainan sepakbola murni. Kedua tim terlihat ngotot dalam melancarkan serangan.

Anehnya Argentina justru tak berdaya saat menghadapi Jerman. Saya berada di Olympiastadion dan saya yakin saat itu pelatih Jose Pekerman mencoba berkompromi dengan keyakinannya sendiri. Ia begitu takut akan kekuatan fisik para pemain Jerman sehingga memutuskan untuk tidak menurunkan Javier Saviola, mengganti Juan Riquelme, dan tidak memilih Lionel Messi.

Senin (10/7), sambil makan siang dengan beberapa petinggi FIFA, saya menanyakan apa yang harus dilakukan negara-negara Asia dan Afrika untuk menyeberangi jurang yang memisahkan kualitas mereka dengan persepakbolaan di Eropa dan Amerika Latin.

Jawabannya sederhana: ikuti jejak Argentina atau bahkan Italia. Tetapi, jangan pernah takut untuk memilih bakat-bakat terbaik yang ada dalam negeri. Namun, yang terpenting adalah perintahkan pemain-pemain Anda untuk mengambil yang terbaik dari Zidane dan menjauhkan mereka dari aksi brutalnya di laga pamungkas.

orgasme football

July 10th, 2006 by heardemsay

Kolom Moammar Emka*
Pesta akbar Piala Dunia 2006 berakhir sudah. Ada tawa, ada tangis, itu biasa. Partai final antara Italia vs Prancis di Olympiastadion, Berlin, Senin dini hari menjadi saksi sejarah: Italia berhasil meraih gelar juara dunia untuk kali keempat, dan Prancis gagal menambah gelar paling "keren" sejagat itu untuk kali kedua.

Inikah sebuah klimaks? Inikah sebuah pencapaian akhir yang maksimal? Layaknya dalam permainan seks, orgasme menjadi muara dari segala keringat yang bercucuran. Aneka macam gaya dipergunakan demi mencapai titik kenikmatan yang hanya sepersekian detik itu. Dari gaya "Kera Manjat Pohon", "Baling-Baling Bambu", "Kolaborasi 69", "Doggy Styles" sampai gaya bermain yang tergolong ekstrem di mata umum seperti "Swing Partners", "Three-some", "Fantasi Sadomasochist" dan "Sandwich Triple Tuna".

Gaya apa pun ternyata tak menjanjikan hasil maksimal. Argentina dengan gaya Tango-nya dan Brazil dengan goyangan Samba-nya, kandas sebelum menembus babak semifinal. Belanda dengan total football-nya dan Inggris dengan Kick ’n Rush-nya sama-sama mengalami "ejakulasi dini" di babak perempat final.

"How to play!" Begitulah kata sebagian besar pakar seksologi ketika ditanya kunci kesuksesan dan keberhasilan dalam bercinta. Gaya atau model apa pun tidak menjadi jaminan mutu tanpa tahu bagaimana cara permainan Anda dan pasangan Anda. Tahu sama tahu dan saling mengerti satu sama lain. Tahu di mana titik-titik bagian tubuh paling sensitif yang harus disentuh, mengerti foreplay apa yang harus dimainkan, paham betul soal komunikasi "dua lini" dalam bercinta, dan tentunya, didukung tenaga superekstra yang tak cepat "letoy" terkena gesekan lawan.

Italia dan Prancis, suka atau tidak, berhasil menembus babak final karena merekalah tim yang tahu resep "How to play". Keduanya terseok-seok di babak penyisihan, tapi berhasil menyuguhkan permainan yang cantik setelah masuk ke babak 16 besar dan makin memesona ketika lolos ke babak perempat final dan semifinal. Italia dengan semangat tempur ala petinju Rocky Stallion meng-KO-kan Jerman dan Prancis dengan permainan indah ala peragawati di atas catwalk memaksa Brazil pulang kampung.

Inilah sebuah permainan. Tak bisa ditebak secara matematis, tak bisa direka-reka oleh bandar taruhan kelas kakap atau lewat kesaktian para paranormal sekalipun. Brazil dan Argentina yang secara matematis diunggulkan bisa mencapai titik "orgasme" dan menggondol gelar Piala Dunia, hanya sampai babak perempat final, tak lebih. Sebuah pencapaian yang membuat banyak penggila bola geleng-geleng kepala, mengingat dua tim tersebut bertabur superstar yang pantas disebut "maestro bola". Kesuksesan sebuah tim, ternyata tak ditentukan oleh seorang bintang atau bukan. Kesuksesan ditentukan oleh kerja sama tim yang bahu-membahu menciptakan permainan yang cantik. Fabio Grosso yang jadi pemain bertahan tim Azzurri, mana mungkin bisa mencetak sebuah gol indah ke gawang Jerman tanpa umpan manis dari Pirlo, sang playmaker.

Sekali lagi, inilah permainan. Akhir dari permainan itu telah mencatat Italia sebagai sang jawara dan Prancis sebagai runnep-up. Italia, mudah ditebak, merasakan klimaks yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Pesta dengan champagne dan bir yang tumpah ruah tak karuan, menjadi pemandangan semalam suntuk di seluruh pelosok negeri Italia. Itulah orgasme yang sebenarnya. Di tengah kemelut skandal suap yang mengguncang Liga Seri A, gelar juara yang berakhir dengan pesta suka cita itu setidaknya bisa menghapus citra buruk yang menghantui Negeri Pizza itu.

Italia, boleh jadi kini menikmati pencapaian orgasme yang berlebihan. Tapi, menurut hemat saya, kalau tim yang pantas mendapatkan pencapaian mutiple-orgasm adalah Jerman. Pertama, sebagai tuan rumah, Jerman sukses menggelar Piala Dunia 2006 dengan megah, mewah, dan meriah, serta -kalau ini disetujui- menumbuhkan aroma fairplay yang makin OK. Kedua, meski hanya sukses merebut gelar pemenang ketiga, Juergen Klinsmann diproklamasikan mampu membangkitkan revolusi sepak bola di negeri Mercedes itu.

Ketiga, Lukas Podolski dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2006. Keempat, Jerman lewat kebijakan legalisasi prostitusi berhasil membuat para penggila bola merasakan petualangan orgasme di bilik-bilik cinta atau di hotel mewah sekalipun. Lho kok?! ***
*) Moammar Emka, penulis buku best seller Jakarta Undercover.

sepak bola mulut

July 3rd, 2006 by heardemsay

Dalam tulisannya, Sepak Bola Mulut, di harian ini (30/6), Asvi Warman Adam tampak "sebal" dengan para komentator sepak bola kita yang cenderung asal berkomentar, padahal komentarnya tak lebih bermutu dari, seandainya, komentar itu diberikan oleh nenek-nenek.

Asvi tampak "jengkel" dengan komentator yang tampil gundul seakan-akan ingin mengesankan dirinya pemain sekelas dengan pemain gundul dari negara peserta Piala Dunia.

Asvi "geregetan" kepada komentator yang kalau berkomentar sepertinya lebih hebat daripada pemain dan pelatih tim Piala Dunia, padahal ketika dirinya jadi pelatih atau pemain nasional tak punya prestasi apa-apa. Kata Asvi, orang Indonesia ini hanya pandai sepak bola mulut, omong doang, tanpa pernah bisa membikin tim yang baik.

Untuk penilaian yang seperti itu, saya sama dengan Asvi. Bedanya, saya justru menikmati kehadiran komentator-komentator itu sebagai banyolan yang bisa menghilangkan kantuk, bukan komentar yang berisi analisis yang bisa dipercaya.

Bayangkan. Dalam sepak bola yang berlangsung tenang, anggun, dan memukau, justru komentator kita mengomentarinya dengan riuh, jauh lebih ramai daripada sepak bolanya itu sendiri, tapi tak jelas apa isinya. Itu yang lucu dan membikin tidak ngantuk. Dengan mendengar ocehan komentaator saja, rasa kantuk bisa hilang tanpa harus menyuruh istri membuat kopi merek tertentu.

Suap dan Dukun

Ketika tendangan seorang pemain melayang sedikit di atas mistar gawang, sang komentator mengatakan dengan penuh semangat, "kalau tak tersetuh betis bek, pasti tadi sudah masuk." Ya-lah, kalau hanya berkomentar seperti itu, bukan hanya nenek-nenek, tapi anak kecil juga bisa. Itu kan sama mudahnya dengan berkomentar, "kalau tadi tali kolor celana kipernya putus, bola pasti masuk. Sebab, kiper pasti lebih mengamankan celananya daripada menangkap bola. Atau, "kalau pemain lawan tadi tidur semua, pasti bola sudah masuk." Komentator kita lebih banyak melontarkan hal-hal yang tak mungkin terjadi.

Komentar-komentar konyol yang seperti itu, tampaknya, sejalan dengan ketidakseriusan kita dalam membina sepak bola, ingin mencapai kemenangan bukan dengan teknik yang bagus, melainkan dengan cara yang aneh-aneh. Maka, jangan heran jika dunia sepak bola kita kerapkali diwarnai isu yang aneh-aneh. Pada masa kepemimpinan Acub Zainal di PSSI, pernah diributkan dengan isu "babi suap" karena banyak yang ingin menang dengan menyuap wasit atau pemain lawan.

Ada juga isu "sepak bola gajah" bahwa sebuah kesebelasan sengaja mengalahkan diri dengan cara bermain seperti gajah yang gendiak-gendiuk. Yang konyol lagi, pernah ada istilah "sepak bola Pancasila" yang tak masuk akal sedikit pun. Katanya, Pancasila itu menghendaki kerukunan dan melarang liberalisme atau persaingan bebas.

Nah, di dalam sepak bola Pancasila dapat muncul juara bersama sehingga juara I-nya ada dua kesebelasan. Bagi saya, ini kekonyolan. Ini sungguh mempermainkan Pancasila.

Lebih dari itu, sportivitas yang harus dibangun di dalam sepak bola kerapkali juga diwarnai dengan perdukunan. Tentang ini, saya pernah mendengar cerita lucu dari Gus Dur. Sebutlah pada suatu waktu tim sepak bola Kecamatan Arjosari akan berhadapan dengan tim sepak bola Kecamatan Sidomukti.

Karena ingin menang, pimpinan persatuan sepak bola Arjosari meminta tolong kepada seorang dukun. "Baik, nanti saya buat 10 gol untuk kemenanganmu," kata sang dukun meyakinkan. Ternyata pertandingan berakhir dengan skor 5:5 sehingga pimpinan kesebelasan Arjosasri memprotes sang dukun yang telah dibayarnya dengan mahal. "Mbah, hasilnya kok seri 5:5, janjinya kami menang 10 gol." katanya. "Lho, tadi sudah saya tiup bola dari sini untuk 10 gol," jawab sang dukun. "Ya, golnya memang 10, tapi skornya 5:5. Babak pertama kami mencetak 5 gol, tapi pada babak kedua, setelah tukar tempat, kami kemasukan 5 gol. Sepuluh gol itu masuk ke gawang utara semua." kata pimpinan sepak bola Arjosari. "Ooh, sepak bola itu pakai tukar tempat, to? Saya tak tahu kalau ada tukar tempat; maka bola saya tiup ke gawang utara semua," jawab sang dukun enteng.

Mendengar timnya mau dikerjain lewat dukun pimpinan sepak bola Sidomukti panik, apalagi kesebelasan yang dipimpinnya lebih banyak kalah jika bertanding. Dia mendatangi seorang dukun lain untuk minta kemenangan pada pertandingan berikutnya. "Baik, kesebelasanmu akan menang. Tapi, siapkan 11 gram emas dan 11 kaus seragam. Kemudian, kertas yang telah saya tulisi mantera ini tanam di antara dua pohon pisang yang berada di belakang rumahmu itu," kata sang dukun dengan penuh wibawa. "Lho, Mbah di belakang rumah saya tak ada pohon pisang," jawab pimpinan sepak bola Sidomukti dengan heran.

Ketahuan bahwa sok tahunya ternyata salah, sang dukun sangat kaget. Tapi, dengan kecerdikannya, sang dukun cepat menjawab sambil seperti marah. "Pantas, kesebelasanmu sering kalah. Itu karena di belakang rumahmu tak ada pohon pisang. Segera tanam, ya," perintahnya.

Nasionalisme dan Lucu-lucuan

Meski pasti tak benar, mungkin akan ada yang menilai saya tak nasionalis jika harus jujur mengatakan bahwa saya tak berharap Piala Dunia diselenggarakan di Indonesia atau Indonesia ikut di dalamnya. Jika Asvi khawatir kalau Piala Dunia diselenggarakan di Indonesia bisa-bisa kepala para pemain dunia akan bocor dilempari botol oleh penonton Indonesia, kekhawatiran saya agak beda. Saya khawatir, jika Indonesia ikut dalam piala dunia, bisa-bisa jalannya Piala Dunia berlangsung tidak nyaman, menyebalkan, atau bahkan diwarnai isu suap dan perdukunan.

Rasa nasionalisme tentu tak bisa diukur dengan keinginan menikmati permainan sepak bola yang bermutu. Sungguh darah daging dan hati saya 100 persen Indonesia. Saya hanya ingin menikmati sepak bola kelas dunia dengan segala keindahannya. Biarlah Indonesia melahirkan komentator-komentator untuk lucu-lucuan saja dulu. Habis levelnya memang baru sampai di situ.

Moh. Mahfud M.D., anggota DPR dari PKB, penggemar sepak bola dan segala komentar lucunya.

melodi paling perih

June 29th, 2006 by heardemsay

Kolom Zen Rachmat Sugito*
Menyaksikan kekalahan dramatis Belanda oleh Portugal Senin (26/6) dini hari, saya langsung ingat Johan Cruyff. Pada satu momen, beberapa saat usai kekalahan Belanda oleh Jerman Barat di final Piala Dunia 1974, dia berkata, "Kami mati dalam keindahan."

Ketika itu, Cruyff menjadi kapten kesebelasan Belanda, diakui sebagai salah satu tim terbaik yang pernah dilahirkan sejarah sepak bola dunia, yang bermain begitu impresif sepanjang turnamen harus puas dengan predikat Juara Tanpa Mahkota. Pernyataan Cruyff yang nyaris seperti sebuah elegi itu di kemudian hari ternyata bermakna ganda: (1) sebagai manifesto bermain bagi kesebelasan Belanda dan (2) sering pula serasa menjadi semacam tulah.

Kebetulan, kematian (baca: kekalahan) yang indah itu terjadi hanya beberapa tahun setelah sastrawan Jepang Yukio Mishima melakukan seppuku (bunuh diri dengan merobek perut yang diteruskan dengan aksi pemenggalan kepala) hanya beberapa menit setelah dia gagal meyakinkan sepasukan tentara Jepang di satu pos militer Tokyo dan publik Jepang secara umum untuk kembali ke jalan samurai yang asketik ketimbang menjadi negeri kapitalis.

Jalan kematian yang ditunjukkan Mishima begitu dramatis karena semua dilakukan secara terang-terangan di bawah raungan suara helikopter yang membawa kamera TV-TV Jepang yang meliput pidato terakhir Mishima, lengkap detik-detik terakhir hidupnya (bayangkan seorang Pram, misalnya, menyerbu pos militer, menyandera komandannya, dan lantas melakukan bunuh diri). Cara Mishima menjemput ajal laiknya sebuah pentas teater saja: dramatis sekaligus indah.

Sastrawan yang saat kematiannya sedang dinominasikan sebagai kandidat peraih Nobel 1970 itu tak pernah dianggap bodoh atau konyol. Dia tetap dihormati, bukan hanya karena dia bersama Kawabata dianggap sebagai pelopor gerakan post war literature saja, melainkan dia dihormati karena dianggap gahar dalam menjunjung prinsip yang diyakininya. Prinsip yang baginya jauh lebih punya harga tinimbang nobel sekalipun.

Sama dengan parafrase yang diungkapkan Cruyf di atas, yang dirasakan begitu berarti. Tak hanya Cruyff dan Belanda tahu betul seperti apa rasanya mati dalam keindahan itu, tetapi juga karena parafrase itu menyiratkan sebuah kesetiaan yang nyaris tanpa batas terhadap sebuah prinsip bermain bola khas Belanda: menyerang dan menyerang. Dengan cara yang indah, tentu saja.

Dan, publik Belanda, seperti orang Jepang memandang Mishima, juga tak pernah menganggap parafrase Cruyf itu sebagai konyol. Sejak kekalahan itu, publik Belanda seperti terbiasa untuk mentransendir kekalahan usai kesebelasannya bermain indah, sebagai kekalahan yang membanggakan, atau dalam kata-kata Cruyff, "kematian dalam keindahan".

Pernyataan itu akhirnya juga menjadi manifesto sepak bola Belanda karena sejak itu anak-anak Belanda hanya tahu bagaimana cara bermain menyerang total, semua maju sewaktu menyerang, semua bertahan kala diserang. Segalanya dilakukan demi sebuah kemenangan dan tentu saja demi sebuah keindahan.

Anak-anak Belanda bukannya tak tahu risiko bermain dengan cara gila macam itu. Tercatat hanya sekali kesebelasan Belanda sukses dengan sistem total football. Yaitu, ketika generasi Basten-Gullit-Rijkaard-Koeman sukses membawa Belanda menjadi juara Eropa pada 1988 di kandang Jerman Barat. Selebihnya gagal tanpa memboyong piala.

Dikalahkan Argentina di final Piala Dunia 1978, dikalahkan Brazil di perempat final Piala Dunia 1994 dengan skor 3-2, ditewaskan kembali oleh Brazil di semifinal Piala Dunia 1998 lewat adu penalti (3 partai itu, plus kekalahan 1974, ditahbiskan sebagai partai terbaik di masing-masing turnamen), dan terakhir dikalahkan Italia juga lewat penalti pada semifinal Piala Eropa 2000.

Seperti Teater

Pertandingan Belanda-Portugal kemarin tak ubahnya seperti sebuah pentas teater. Di sana ada dua "skrip" memesona (total football Belanda dan samba Eropa ala Portugal), dua sutradara hebat (Basten-Scolari), karakter-karakter dengan naluri menyerang yang kuat (Figo-Persie, Ronaldo-Robben), suspense yang mendebarkan (4 kartu merah dan 16 kartu kuning), ending yang mengejutkan (kekalahan Belanda itu sendiri), dan sebuah epilog yang mencerahkan (keakraban Deco-Bronchorst dan aplaus penonton Portugal untuk pemain Belanda yang dengan kompak menyapa mereka usai pertandingan).

Sebagai pelatih, Basten tahu betapa berbahayanya Portugal. Tetapi, nyaris mustahil Basten memilih bertahan. Dan, seperti itulah yang terjadi. Hanya dalam tempo tiga menit di awal permainan, Belanda sudah membikin panik pertahanan Portugal lewat dua shooting berbahaya. Dan, sejak itu, Portugal seperti kehilangan akal. Anak-anak Belanda bermain seperti air bah yang baru saja menjebol dam Sungai Amstel.

Gol brilian Maniche pada pertengahan babak pertama bukannya membuat anak-anak Belanda runtuh. Mereka makin tersengat. Gol itu seperti listrik bagi handphone yang baterainya masih terisi penuh. Berkali-kali anak-anak Belanda sukses membikin pertahanan Portugal lintang pukang. Tendangan Cocu membentur tiang, tendangan memutar Kuyt diblok Ricardo, dan sehimpun peluang emas lainnya. Belanda makin membabi buta setelah Costinha di-"merah"-kan wasit. Kartu merah susulan yang diterima Boulachrouz tetap tak membikin anak-anak Belanda surut.

Pertandingan itu sendiri berlangsung sangat emosional. Temponya tinggi. Tekanan bertubi-tubi memaksa Portugal bertahan dengan segala cara, mulai menahan bola dengan tangan (Costinha), menahan bola selama mungkin (Deco dan Ricardo), hingga menyundul kepala lawan (Figo). Belanda yang dari sononya anti dengan segala yang lambat akhirnya sering terpancing. Boluachrouz menyikut Figo. Van Deer Vart mendorong Carvalho.

Semuanya jelas diganjar hukuman. Inilah yang seru. Empat kartu merah melayang (Costinha, Deco, Boulachrouz, Bronchorst), 16 kartu kuning, plus dua kali insiden saling dorong di antara dua tim. Dramatis.

Tetapi, ada yang indah di sana. Ketika Bronchorst dikeluarkan, dia tak bergabung dengan kawan-kawannya di bench. Dia memilih duduk berdampingan di tangga penonton dengan Deco, lawannya. Keduanya sempat bertukar cakap. Dan, di akhir pertandingan, usai kekalahannya yang perih, anak-anak Belanda berkumpul dan mendekati suporter Portugal, menyapa mereka. Suporter Portugal pun seperti tak ingin absen dari "pentas teater" ini dengan memberikan aplaus panjang kepada anak-anak Belanda yang mendekati mereka.

Komplet sudah. Sebuah pertandingan hebat, menegangkan, keras, emosional, dan dramatis, tetapi tetap diakhiri keakraban yang tulus, yang akan dirasa aneh bagi publik sepak bola Indonesia yang terbiasa berkelahi tiap pertandingan usai digelar. Itulah sebentuk keakraban yang membuat Nelson Mandela optimistis bahwa sepak bola bisa menjadi inspirasi bagi gerakan global philanthropic (perdamaian dunia).

Mengakrabi Kematian dan Kutukan

Bagi publik Belanda, kekalahan tetap kekalahan. Dan tidak ada kematian (baca: kekalahan) yang menyenangkan, betapa pun kematian itu berlangsung dengan cara yang indah.

Saya kemudian ingat sebuah judul puisi Soebagio Sastrowardoyo: "Dan Kematian Pun Semakin Akrab". Barangkali, sajak Soebagio Sastrowardoyo itu menjadi pas untuk dikirimkan sebagai "kado" kematian bagi publik Belanda.

Ya, apa boleh buat, publik Belanda, tampaknya, akan semakin akrab dengan kematian. Itulah sebabnya di awal tulisan ini saya menyebut: selain menjadi manifesto permainan yang membuat permainan Belanda selalu ditunggu, pernyataan Cruyff akhirnya juga terasa seperti sebuah kutuk! (*)
*) Zen Rachmat Sugito, editor Jurnal NAGARA WEEKLY

apa bisa Messi berkembang di indonesia???

June 19th, 2006 by heardemsay

MASUK 15 menit menjelang usai, Lionel Messi mampu "menyumbang" dua gol bagi Argentina yang melalap Serbia-Montenegro 6-0. Satu gol lewat umpan matang yang diselesaikan Hernan Crespo. Satu gol lagi diciptakannya sendiri. Messi meliuk-liuk melewati dua-tiga pemain Serbia sebelum akhirnya menjebol gawang yang dijaga Dragoslav Jevric. Bukan hanya pendukung Argentina dan penonton di stadion yang bersorak. Tapi, juga lebih dari satu miliar penonton yang menyaksikan Piala Dunia via teve. Maradona, sang legendaris Argentina, pun tampak exciting. Dia seperti kembali menegaskan bahwa Messi adalah reinkarnasi dirinya.

Beda dengan Maradona yang bengal, urakan, dan lekat dengan kontroversi (dia antaranya "gol tangan Tuhan" di gawang Inggris dan berbagai kasus narkoba), Messi berpenampilan kalem, low profile, dan berwajah bayi. Namun di balik wajahnya yang innocent itu, dia ternyata seorang "pembunuh" tim lawan. Penguasaan bolanya meyakinkan, seolah ada bergalon-galon lem yang membuat bola itu melekat di kakinya. Giringannya membikin lawan pontang-panting dan tembakannya pun mematikan. Kemampuannya yang sangat prima itu dicapai Messi dalam usia yang sangat muda: 19 tahun. Tak heran jika dunia menyambutnya sebagai the rising star.

The rising star itu kini sedang menyihir dunia. Dunia sudah lama menunggunya. Gelandang mungil tersebut sebelumnya mengalami cedera berat akibat digasak Asier Del Horno, bek Chelsea yang kini memperkuat Spanyol, dalam partai Chelsea vs Barcelona pada Liga Champion 2006.

Kelahiran Messi sebagai pemain besar membenarkan satu teori yang mengatakan bahwa pada setiap zaman akan lahir tokoh besar. Termasuk, dalam sepak bola. Seperti manusia, zaman pun memilik sifat bosan pada sosok atau sesuatu yang itu-itu saja. Sang zaman, dengan caranya yang dingin, akan melengserkan bintang-bintang lama yang sudah out of date, baik karena gerogotan usia maupun faktor potensi. Masa kejayaan Zidane, Ronaldo, Beckham, Roberto Carlos, dan lainnya telah surut. Ini membuktikan bahwa jatah popularitas dan ketokohan seorang bintang punya batas. Setiap orang tidak kuasa untuk memperpanjang "masa kontrak" popularitas itu. Kalau toh hal tersebut tetap dipaksakan, dunia akan tertawa melihat para tokoh "jadul" (zaman dulu). Dalam even Piala Dunia ini, para pemain yang sudah berkepala tiga tampak ngos-ngosan bersaing dengan pemain-pemain berusia muda yang lebih fresh, energik, dan kreatif.

Ini bedanya sepak bola dengan politik. Politik sebagai seni meraih dan mengelola serta mempertahankan kekuasaan sangat memungkinkan para tokoh untuk tetap bertahan dalam waktu yang lama. Lihatlah politisi dan aktor-aktor kekuasaan di Indonesia yang rata-rata berusia di atas kepala lima. Mereka dengan segala upaya melanggengkan kekuasaannya, meski secara objektif kurang mampu. Akibatnya, politisi generasi muda kurang mendapatkan ruang gerak untuk aktualisasi diri. Regenerasi sengaja dibikin macet. Dalam situasi pengap macam itu, kita sulit mengharapkan kinerja politik mereka yang segar, cerdas, visioner, dan berpihak kepada rakyat (karena mereka tidak pernah merasa dibesarkan oleh rakyat). Kita pun jadi paham, kenapa reformasi yang dicetuskan para anak muda, akhirnya, "mati suri". Sebab, yang tetap bercokol dan berkuasa tetap aktor-aktor lama yang ganti baju dan ganti rias atau topeng, tapi naskah serta orientasi "pementasannya" tak berubah: menyengsarakan rakyat.

Tak jauh dari jagat politik, sepak bola kita juga terjangkit wabah degenerasi pemain. Kita memang punya banyak pemain berbakat, semacam Boaz Salossa, Hamka Hamzah, dan lainnya. Namun, bakat-bakat itu tidak mendapatkan iklim pertumbuhan yang kondusif. Kompetisi Liga Indonesia belum menjadi ajang persaingan yang sepenuhnya bertumpu pada fair play dan profesionalisme. Ada banyak kepentingan di luar sepak bola yang bermain di sini. Lihatlah, PSSI yang punya hobi untuk tidak konsisten terhadap peraturan yang dibuatnya sendiri. PSSI cenderung bekerja dengan bergantung pada "ke mana angin bertiup" yang digerakkan kekuatan eksternal. Hasilnya adalah kompetisi yang tidak memenuhi standar (misalnya jumlah peserta Liga Indonesia Divisi Utama yang melampai jumlah ideal: 16 sampai 20 klub, bahkan 2007 nanti jumlah itu membengkak dari 28 klub menjadi 32 klub akibat menghilangkan sistem degradasi). Pemain semacam Messi sulit untuk lahir di sini!

(Indra Tranggono, pemerhati budaya, tinggal di Jogjakarta)

David Beckham dan Magnus Effect

June 18th, 2006 by heardemsay

SIAPA yang tak ingin memiliki tendangan indah ala David Beckham. Peneliti dari Sheffield Hallam University, Dr. David James, melakukan penelitian yang menjelaskan secara ilmiah bagaimana tendangan pemain Timnas Inggris itu bisa begitu mematikan.

Hasil tendangan pemain tengah Real Madrid ini memiliki "efek berputar" sehingga bisa membelok dan sulit diantisipasi kiper lawan. James menjelaskan, tendangan Beckham memiliki daya lontar yang unik.

Dalam presentasi hasil penetiliannya di Cheltenham Science Festival, dia memberi istilah gaya menendang ala Beckham itu dengan sebutan "Magnus Effect." Artinya, arah tendangan bisa berbeda dengan arah memutar bola. "Ujung-ujungnya, lawan akan kebingungan karena arah tendangan akan berbeda dengan arah beloknya bola," papar James.

"Jika perputaran bola sesuai dengan arah aliran udara, maka itu akan menghasilkan tekanan yang rendah. Arah bola pun akan memutar sesuai dengan arah udara saat itu. Sebaliknya, tekanan tinggi akan menekan bagian lain bola tersebut," jelasnya.

Dipaparkan, kombinasi antara kekuatan tendangan dengan tekanan udara akan menyebabkan bola berbelok arah, sesuai sisi mana kekuatan terbesar terhadap bola tersebut. Bola bisa berbelok ke samping, atas, atau ke bawah bergantung perputaran bola.

Masih menurut James, cara ini merupakan cara yang cerdas untuk mengurangi kontak fisik dengan pemain lain. Kemungkinan terjadinya tackle atau adu fisik dapat dikurangi. "Nah, para pelatih juga bisa mengembangkan strategi ini saat tendangan bebas dan tendangan pojok dengan tendangan gaya membelok (deflection)," bebernya.

James menjelaskan, pola jahitan yang mengitari bola itu juga bisa menjadi faktor penting yang mempengaruhi arah tendangan. "Tingkat kekasaran bola yang diakibatkan oleh pola jahitan bola bisa jadi penghambat laju belokan bola. Pola jahitan juga akan menentukan mudah tidaknya bola melayang di udara," kata James. Dia mencontohkan ikan yang mudah berenang di dalam air karena memiliki tingkat kekasaran kulit yang sesuai dengan skala tertentu.

Bagaimana bola Adidas Teamgeist yang menjadi bola resmi di Piala Dunia 2006? Dia mengatakan, bola ini mendukung tendangan-tendangan yang menggunakan efek tertentu. Selain karena tingkat kekasaran bolanya rendah, menurut dia, bola itu juga memiliki penampang yang lebih luas karena jahitan pada bola yang lebih sedikit.

James juga mengatakan, sepatu bola juga merupakan ilmu pengetahun yang dapat diteliti lebih jauh. Gaya menendang seorang pemain dapat dipengaruhi oleh kelembutan, alas sepatu dan pola jahitan sepatu pemain bola yang bersangkutan.

Bahkan, ilmu dan teknologi juga bisa jadi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari penentuan kebijakan dalam bermain.

Ilmu pengetahun bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sepak bola. Tapi, "Tentu saya tidak akan beradu argumen dengan David Beckham soal bagaimana cara dia menendang bola. Dia lebih tahu," kelakarnya.

ada apa dengan PIALA DUNIA????

June 18th, 2006 by heardemsay

Kalau ada orang dari planet luar sekarang bertandang ke bumi, mereka pasti heran. Kenapa begitu banyak orang berkumpul di Jerman dari seluruh dunia. Mengapa mata ratusan juta manusia terus melotot ke televisi, tak mau kehilangan sedetik pun apa yang terjadi di lapangan 100 kali 50 meter itu setiap hari sampai subuh.

Triliunan duit yang mengalahkan jumlah anggaran belanja negara berhamburan ke sana kemari sebagai harga dari perhelatan itu. Sementara itu, 6 ribu jiwa sudah lewat begitu saja di Jogja dan sekitarnya dengan ratusan ribu penduduk yang akan menangis sepanjang tahun. Bahkan, barangkali, berpedih hati seumur hidupnya karena kehilangan yang tak mungkin dapat digantikan apa pun.

Seperti anak kucing, bintang-bintang yang membuat harga diri menciut, berlompatan seluruh penjuru dunia, hanya untuk berebut sebuah bola dalam World Cup 2006. Dada manusia penontonnya yang fanatik, gemeletuk setiap hari, terbawa oleh emosi dalam penantian kapan jala gawang lawan akan digetarkan bola yang diperebutkan selama 90 menit dengan segala macam taktik dan gaya. Semua tersihir sampai lupa daratan karena alangkah sulitnya untuk menendang sebuah bola saja.

Kebangsaan, agama, panutan politik, dan strata sosial yang biasanya begitu menyekat manusia sehingga bisa bunuh-bunuhan di dalam keadaan yang normal, melempem. Bola sudah mengoyak batas yang selama ini menjadi kendala manusia untuk bersaudara. Bola membawa perdamaian yang selama ini dikejar habis, tapi tanpa ada hasil oleh berbagai kedok usaha kemanusiaan yang buntut-buntutnya malah menyulut perang juga. Apa yang dirindukan John Lennon dalam lagu Imagine menjadi kenyataan dalam World Cup walau hanya satu bulan.

Tanpa ada setetes darah Jepang di tubuhnya, tanpa ada jalinan pertemanan atau kaitan akademis, seorang dosen di Universitas Brawijaya Malang menulis: "Semalam saya sempat sedih, Jepang tak kuasa menghadang Australia yang memang garang." Sementara seorang penjual tempe dengan muka bersinar melayani langganannya di perumahan Astya Puri, Jakarta, dan royal memberikan tambahan tempe karena Korea berhasil menghajar kesebelasan Togo 2-1. Padahal, letak Korea dalam peta saja dia tak tahu.

World Cup sudah pantas untuk dinobatkan sebagai pahlawan. Permainan yang kini paling membuat manusia "gila" itu telah melakukan diplomasi dan transformasi budaya yang setara dengan kiprah para negarawan-budayawan yang pernah mendapat hadiah nobel perdamaian. Dan, yang sangat penting adalah World Cup bukan seseorang, bukan juga sebuah pihak, aliran, negara atau ideologi, tetapi sebuah peristiwa manusia seluruh dunia. World Cup sudah menjadi sebuah tantangan terhadap orientasi pemberian hadiah yang selama ini selalu dikaitkan dengan orang. World Cup adalah penggembosan terhadap kultus, baik kultus individu, kultus ideologi, maupun kultus keyakinan.

Memang, kekerasan juga sudah muncul sebagai bagian dari taifun sepak bola. Seorang pemain ditembak oleh pemujanya yang merasa kecewa. Para pendukung fanatik menjadi edan-brutal, melakukan penganiayaan, perusakan, dan pelanggaran hukum ketika matanya sudah gelap. Sejarah sudah mencatat sepak bola pun berdarah. Tetapi, apa yang tidak berdarah? Keyakinan saja sudah berdarah dan terpakai oleh oknum-oknum tertentu untuk membenarkan yang mau dijadikan paling benar.

Yang sangat menarik adalah sepak bola boleh disentuh setiap orang dengan gampang. Dari presiden sampai bintang selebriti dan kere. Tidak ada yang menjadi bos yang memonopolinya. Meskipun menyangkut omzet yang triliunan, sepak bola adalah permainan yang paling murah. Bahkan, tanpa ada bola, hanya sebuah jeruk Bali, permainan bisa dilaksanakan.

Kebesaran sebuah negara tak berarti juga sepak bolanya maju. Jumlah penduduk bukan ukuran. Bahkan, keampuhan ekonomi untuk membeli triliunan bola, membuat lapangan bola, membangun stadion bola, mendirikan sekolah, liga, dan membayar pemain-pemain bola profesional tak membuat sebuah negara langsung menjadi juara dalam World Cup.

Sepak bola adalah sebuah terobosan yang memperolokkan teknologi, ekonomi, kekuatan politik, dan sebagainya yang selama ini menjadi berhala-berhala yang mengendalikan dunia. Bukan hanya duit dan senjata yang menentukan jalannya sejarah manusia, tetapi juga World Cup. Memang bukan hanya sepak bola, tapi semua olahraga yang menjadi semacam revolusi budaya dalam dunia. Namun, di antara semua cabang olahraga itu, World Cup yang paling "heboh" mengendalikan saraf manusia di seluruh dunia.

Kita tak habis pikir, mengapa orang berebut mau pergi ke Jerman. Padahal, apa yang terjadi di situ sudah langsung tertayang di televisi, tanpa harus membelanjakan ribuan dolar dan berdesakan di antara penonton. Semuanya tersaji bahkan dengan sangat mewah dan memanjakan. Kamera televisi membawa pemirsa ke kaki pemain, ke wajahnya, ke reaksi pelatih, dan ke bola yang menghantam jala, yang tak semuanya bisa tertangkap bila menonton langsung. Toh orang masih ngotot datang. Kehabisan karcis pun jadi, asal bisa menonton di luar stadion. Minimal di atas tanah yang sedang dipijak oleh para pemain.

Inilah misteri World Cup yang tak masuk akalnya dalil ekonomi. Orang sudah dibuat tidak peduli lagi pada duit oleh bola. Doku di-KO karena bukan uanglah selamanya, apalagi satu-satunya tujuan terpenting manusia. Kepuasan hati, kebahagiaan batin, kenyamanan pikiran adalah segala-galanya. Sepak bola menyadarkan kita kembali kepada satu hal yang sudah sering dilupakan, yakni rasa. Rasalah yang sudah dikembalikan oleh World Cup sehingga permainan menyepak bola itu menjadi terapi universal yang mengobati penyakit dunia.

Tetapi, ada syaratnya. Sepak bola tetap hanya sepak bola apabila hanya dilihat sebagai sepak bola. Peristiwa World Cup yang berlangsung 4 tahun sekali menjadi tak ada artinya kalau dipotong hanya saat pertandingan final. Sebagai terapi rasa, mukjizatnya akan hilang. Pertandingan final hanya sebuah pertandingan yang sama saja dengan judi karena akhirnya hanya kalah atau menang.

World Cup adalah sebuah peristiwa yang berlangsung selama 4 tahun terus-menerus. Dari masa pasca-World Cup sampai ke awal babak penyisihan. Dan, ketika kemudian sampai ke perhelatan puncak, World Cup menjadi sebuah prosesi yang panjang. Hanya, mereka yang mengikuti sejak awal akan dapat merasakan sentuhannya yang luar biasa.

Perjalanan Korea sampai mengalahkan Togo 2-1 adalah sebuah langkah maraton. Dan, siapa pun nanti yang berlaga di final untuk memperebutkan predikat juara adalah sebuah puncak gunung yang mencatat perjalanan yang penuh kegigihan, kegagahan, dan upaya manusia-manusia pendukungnya, baik sebagai individu maupun tim.

Menonton World Cup baru benar-benar menonton bila menekuni seluruh prosesnya. Bila di babak final nanti ternyata bukan kesebelasan yang kita jagokan berlaga, tidak ada yang harus dikecewakan. Bahkan, bila duel itu tidak dipersembahkan oleh bintang-bintang pujaan kita karena mereka sudah dipentung kartu merah, perhelatan itu masih akan tetap merupakan sebuah puncak. World Cup bukan hanya pertandingan, tetapi sebuah prosesi, terapi, dan penggembosan. Sebuah upaya perdamaian dan penegakan kemanusiaan. (*)
Jakarta 14 Juni 06
*) Putu Wijaya, budayawan, tinggal di Jakarta

se(X)pak bola!!!!!

June 10th, 2006 by heardemsay

*Oleh Moammar Emka

Apa hubungan sepak bola dengan seks? Atau, malah tidak ada hubungannya sama sekali? Kalau boleh memilih jawaban, saya lebih suka menjawab sangat dekat hubungan di antara keduanya. Sederhana, untuk mendapatkan seks yang oke, artinya bisa mencapai klimaks yang fantastis, hal pertama yang dibutuhkan adalah fisik yang prima. Nah, rasa-rasanya mustahil seorang pria bisa mempunyai tubuh yang bugar, prima, dan bertenaga tanpa olahraga yang teratur.

Kalau dalam sepak bola ada dua babak: 2 X 45 menit, ritual hubungan seks pun -sesuai aturan main yang berlaku- mesti melewati tiga babak: foreplay, intercourse, dan afterplay. Jangan tanya soal waktu yang diperlukan untuk melewati tiga babak tersebut. Bisa sejam, dua jam, atau malah lebih.

Untuk foreplay saja misalnya, kalau pasangan pria dan wanita memilih menggunakan teori mandi kucing; ditambah seks oral saja, paling tidak butuh waktu sekitar 10-15 menit. Belum lagi kalau didahului adegan lapdance -menari-nari di atas pangkuan-, bisa-bisa menghabiskan waktu 20 menit.

Ketika masuk pada babak intercoursing, standar normalnya, seorang pria membutuhkan sedikitnya 300 dorongan. Itu berarti waktu yang diperlukan bisa sekitar 7-10 menit. Tapi, beberapa pria yang masuk kategori "luar biasa" bisa melakukan dorongan sebanyak 600 sampai 1.000 kali baru bisa ejakulasi.

Babak afterplay biasanya memakan waktu yang paling sedikit. Karena yang diperlukan paling-paling hanya kissing atau saling peluk setelah aktivitas intercoursing berakhir. 1 sampai 5 menit, mungkin sudah cukup.Kalau dihitung-hitung, satu kali hubungan seks, rentang waktu yang dibutuhkan bisa 1-2 jam. Semua sangat bergantung kepada kekuatan dan fisik yang prima. Bagaimana mungkin pria bisa melakukan 600 dorongan kalau ternyata fisiknya loyo. Bagaimana seorang suami bisa membuat istri merasakan multiple-orgasm dalam satu kali hubungan seks -entah tiga atau empat kali- kalau tidak didukung oleh badan yang bugar.

Makanya, saya selalu percaya, sosok seperti Frank Lampard yang nyaris tak pernah absen bermain selama 2 X 45 menit saat membela Chelsea sangat mungkin hebat di tempat tidur. Saya juga tak ragu untuk mengatakan, Ronaldinho bisa melakukan 600 dorongan setiap berhubungan seks, bahkan mungkin lebih.Memang, belum ada bukti konkret yang menyebutkan soal kekuatan seks Frank Lampard dan Ronaldinho. Tapi, kalau melihat aksi mereka di lapangan, mulai berlari tanpa henti mengitari lebar lapangan, melakukan umpan lambung, menggiring, tackling, sampai berebut bola di udara, saya yakin 99 persen, mereka juga sangat hebat saat bermain di ranjang. Wong di lapangan sepak bola yang lebar dan panjang saja jago, apalagi di lapangan yang lebarnya tak lebih 2 X 3 meter. Skill punya, fisik lebih dari memadai. Dua kombinasi yang pas untuk diterapkan saat melakukan foreplay, intercourse, dan afterplay.

Lagipula, berhubungan seks sebelum bermain bola bisa membuat performa lebih fresh dan bugar. Paling tidak, itu dianjurkan pelatih Brazil untuk World Cup 2006 Carlos Alberto Pereira kepada anak asuhnya. Jangan-jangan, rahasia sukses permainan cantik yang selalu ditunjukkan Ronaldo, Robinho, bahkan Kaka, selain karena talenta, mungkin salah satu di antaranya adalah berhubungan seks sebelum merumput di lapangan.Jadi, mungkin tidaklah salah, Se(X)pak Bola -maksudnya seks dan sepak bola, kalau mau dirunut secara rinci, mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Coba saja kita tanya, kenapa pacar atau istri para pemain bola rata-rata cantik dan seksi. Kaya, mungkin jadi salah satu faktor. Tapi, saya lebih percaya faktor para pemain bola hebat dalam permainan seks, itu yang lebih utama. Pantas saja, Maradona diam-diam punya istri gelap (atau mungkin cuma pasangan one nite stand) saat masih bermain di Napoli, Italia, dan tak tanggung-tanggung, hubungan itu berbuah Maradona Junior. Cespleng dan tok cer!

*Penulis buku best seller Jakarta Undercover

freezing nyt…

May 29th, 2006 by heardemsay

saturday…27may2006….

freezing…

long nyt…

with u….

was a beautifull day..coz i won 13-1 on matches againts long bay..

was a long nyt..coz i’ve never spent the nyt like that before…

takapuna beach…deep chilling nyt…but u feel my warm side…just u….

i bet u want to do that again….haaahhhaaaa let me do my job…