ode buat minoritas

"Buat mereka yang harus bangun jam 2 pagi buat cari duit..
Mereka yang sudah berusaha tobat tetapi malah dipalak oleh hidup..
Yang menunggu berkah reformasi tetapi malah menjadi korban azahari..
Bergelut dengan waktu supaya roda nasib mau berputar…"

Beda antara miskin dan kaya semakin jelas terlihat saat ini. Sombong melaju mobil jaguar dan ferrari, seolah meludah diatas tubuh yang resah,tawa centil yang berjalan dengan membawa HP ber kamera yang harganya 30 kali tunjangan orang miskin seolah tamparan untuk mereka yang hidup di kolong jembatan.

DPR -badan yang dipilih oleh rakyat sebagai wadah aspirasi orang kecil- tanpa malu memesan LAPTOP baru untuk sekitar 500 anggotanya… Rp.12 milyar terbuang sia2 untuk anggota DPR yang sudah pada kaya bukan untuk orang miskin atau korban2 lumpur lapindo yang kini hidup terlantar di pengungsian.

Fakta baru2 ini menyebutkan bahwa 30% dari pengungsi lapindo mengalami gangguan kejiwaan akibat perubahan hidup yang sangat drastis. Bayangkan bila ini terjadi pada keluarga "penguasa" lapindo,apa mereka bisa menanggung hidup seperti itu???

Pernahkah terfikir pada diri kita betapa besar dosa menyia-nyiakan orang yang kita buat susah hidupnya???

Kota2 besar berlomba2 lari tanpa atau dengan sadar bahwa rakyat lah yg tergilas dan terinjak-injak,,gedung2 semakin sombong membumbung tanpa peduli air mata di bawah nya.

Kalo diriku punya satu lagu yang bisa mewakili perasaan mereka,bakal aku nyanyikan lagu itu untuk mu…

5 Responses to “ode buat minoritas”

  1. Budi Says:

    Kan ada lagu yang judulnya “Kehidupan”. Lagu ini awalnya dibawakan oleh God Bles, kemudian ada juga di album Rockestra-nya Erwin Gutawa.

    Pengarang lagu ini, ya siapa lagi kalau bukan JSOP :D

  2. aZiZou NuMero Says:

    cocok banget mas…lagu itu memang “soundtrack” buat “kaum kusam yang tersingkirkan”… moga2 saja musisi2 sekarang banyak yang peka seperti anda2 dulu…semoga…

  3. jsop Says:

    Disaat orang sudah tidak lagi setia kepada hati nuraninya,maka individu tersebut tidak lagi bersandar pada hakim yang adil didalam pikirannya.

    Hakim yang adil untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar,yang baik dan yang buruk yang halal dan yang haram. Kecenderungan yang kita lihat saat ini, orang tidak lagi berdaulat kepada kodratnya sebagai manusia namun berdaulat kepada benda.

    Percayalah.., hati nurani memang bisa dikalahkan namun tak akan pernah bisa disingkirkan. Dan itulah bagian terpenting dari perjuangan sebagai anak manusia dan sebagai bangsa.

    salam,
    Yockie Suryo Prayogo

  4. Freddy Says:

    mas, tulisan anda sungguh mengena di perasaan saya.

    salam kenal

  5. aZiZou Says:

    salam kenal jg mas freddy…

    sory saya lama gk buka blog!!

Leave a Reply