Archive for February, 2007

nasionalisasikan diri kita!!!!

Monday, February 12th, 2007

Salah seorang temanku disini berkata bahwa pemuda-pemudi indonesia d auckland sudah banyak yg melupakan arti nasionalisme. Jangankan arti nasionalisme,isi pancasila pun mereka tak tahu. Pancasila itu bukan hanya dongeng omong kosong dari nenek moyang tetapi itu buah pikiran orang2 yg mempunyai jiwa nasionalisme tinggi dan cinta tanah air.

Saya ingat sejarah sumpah pemuda dimana pemuda2 dari daerah yg berbeda2 di indonesia bersatu dan bersumpah:

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Ajaib bukan?? hanya dengan 3 rumusan diatas bisa menggalang rasa nasionalisme di Indonesia.

Sebelum kongres pemuda II pada 28 oktober 1928,tak ada yang memungkiri bahwa sepakbola adalah salah satu alat
perjuangan yang paling mumpuni di awal-awal kemerdekaan Indonesia. Hal
ini diyakini bukan saja oleh Soekarno, tapi bapak bangsa seperti
Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara atau Muhammad Husni Thamrin. Mereka
sepakat sepakbola merupakan sarana untuk menumbuhkan nasionalisme.

Pendapat bahwa di Indonesia sepakbola lahir dari kebutuhan
politik, lebih dari kebutuhan publik memang ada benarnya. Sejak Boedi
Oetomo berdiri pada 1908, para tokoh politik mendukung berdirinya
klub-klub sepakbola di Tanah Air. Pertandingan sepakbola yang ditonton
oleh ribuan orang pribumi, tentu amat merisaukan pihak kolonial. Taktik
sepakbola juga ikut melatih pola berpikir masyarakat dalam mematangkan
strategi perjuangan.

Pihak Belanda melihatnya sebagai fenomena yang membahayakan.
Mereka sempat membuat pengkastaan sepakbola di bawah induk organisasi
NIVB (Nederlandsche-Indische Voetbal Bond) pada 1919, namun tak bisa mencegah popularitas sepakbola di masyarakat inlander yang memainkannya dengan telanjang kaki.

Kelahiran Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 makin memantapkan rasa
nasionalisme di sepakbola. Puncaknya, selang tiga tahun, pada 19 April
1930, di Yogyakarta berdiri induk organisasi tandingan milik pribumi
dengan nama lokal, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang
diketuai Ir. Soeratin Sosrosoegondo, eks mahasiswa di Jerman.

Berikut secuil kisah pembentukan PSSI seperti yang dilaporkan koran Bintang Mataram
edisi 22-24 April 1930 yang dikutip dari buku Kenang-kenangan 50 tahun
PSSI. Dapat dilihat bahwa salah satu misi berdirinya PSSI adalah
sebagai jendela kebangsaan dan salah satu pintu gerbang menuju
kemerdekaan.

Spreker merasa bangga, bahoea comite poenja seroean boeat
dirikan persatoean soeda dapet sympathie dari beberapa fihak, hal mana
ada satoe tanda bahoea soeda sampe temponja dalam kalangan Indonesier
diadakan matjam itoe badan persatoean. Spreker laloe terangkan hal
goenanja kaloe sport ada salah satoe soeal dapetken kemoedian bangsa
.”

Pada PON II 1951di lapangan IKADA Jakarta, untuk pertama kali
secara terbuka Bung Karno memakai jargon olahraga untuk membangkitkan
nasionalisme. “Ayo! Merdeka! Freedom! Come on! Let’s go!” sering
dipekikkannya. Setelah sering menghadiri PON dan merasa bangga dengan
penampilan PSSI di Olimpiade 1956, ia kian yakin bahwa olahraga berarti
politik. Ini selaras dengan sistem demokrasi terpimpin yang menaruh
politik adalah segala-galanya.

“Nasionalisme adalah mesin besar yang menggerakkan dan
mengawasi semua kegiatan internasional kita; nasionalisme adalah sumber
besar dan inspirasi agung dari kemerdekaan,” demikian ucapan Soekarno
dalam pidatonya yang berjudul To Build The World A New pada SU PBB XV,
30 September 1960 di New York.

Saking seriusnya merancang olahraga dan sepakbola sebagai
kekuatan nasional dan pembangunan karakter bangsa, Soekarno menunjuk R.
Maladi, eks kiper nasional terkenal, sebagai ketua KOGOR (Komando
Gerakan Olahraga) yang bertugas menyiapkan Asian Games IV di Jakarta.
Di bawah perintah Soekarno, kompleks olahraga (Bung Karno Sport
Complex) dibangun dari kredit lunak Uni Soviet.

Menurut tulisan “Metamorfosis Gelora Bung Karno” (Kompas, 26
Mei 2006), pemancangan tiang pertama kompleks itu dilakukan oleh
Soekarno sendiri pada 8 Februari 1960. Kemudian, satu demi satu sarana
olahraga itu pun terwujud. Istana Olah Raga (Istora) selesai dibangun
pada 21 Mei 1961, Stadion Renang, Stadion Madya, dan dan Stadion Tenis
(Desember 1961), Gedung Basket (Juni 1962), serta Stadion Utama (21
Juli 1962).

Pidato “membangun dunia baru” di New York pada 1960 itu
seolah-olah menjadi proklamasi kedua yang diucapkannya, namun kali ini
untuk negara-negara dunia ketiga dan bangsa-bangsa Asia.

“Bangsa-bangsa Asia harus unjuk diri bahwa mereka juga bisa
melakukan sesuatu yang besar seperti yang dilakukan belahan dunia
lainnya,” timpalnya di majalah Time. Ketika itu Soekarno sudah memilah dunia dengan istilah Oldefos (Old Establish Forces) yang terdiri dari kaum imperialis dan Nefos (New Emerging Forces), tempatnya negara-negara berkembang.

Memang peran Soekarno dalam masa2 awal kemerdakaan sangat berpengaruh dalam membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yg disegani. Saya ingat tentang cerita ketika Soekarno berkunjung ke jerman,disana dia diwawancarai seorang wartawan jerman menggunakan bahasa inggris. Soekarno marah dan meminta si wartawan untuk mewawancarainnya menggunakan bahasa ibunya atau bahasa jerman. Tetapi apa yang terjadi saat ini sebaliknya,pemuda-pemudi indonesia d auckland sudah banyak yg mulai melupakan bahasa indonesia. Saya dengan jelas melihat bagaimana anak2 mulai usia 3tahun sampai yg tua sudah menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa sehari2 bahkan saat berbicara dengan lawan bicara yg berbicara bahasa indonesia. Ironis sekali!!! seolah2 orang tua2 lebih bangga menyaksikan anaknya berkomunikasi dengan bahasa inggris daripada bahasa ibunya. Ironis sekali!!!!

Jangan2 mereka juga tak tahu warna bendera kita?? Ayo dong Burung Garuda itu bukan burung merpati,burung garuda itu simbol sesuatu yg kuat dan disegani. Bendera kita pun bukan kain pembalut dan lagu indonesia bukan cuma lagu omong kosong yg selalu dinyanyikan setiap senin. Sudah banyak korban yg tewas dan keluarga yg terpecah belah demi kemerdekaan. Darah,keringat dan air mata merupakan harga yg harus dibayar untuk mencapai kemerdekaan.

Jadi masionalisasikan diri kita semua!!!! sekarang!!!!

ngomong2 soal arti hidup..

Monday, February 12th, 2007

apa sih tujuan hidup ku itu??? aku tuh cuma seorang anak 19tahun yg katanya orang2 tuh punya banyak bakat..mulai sepak bola dan olah raga,gambar n gravity,musik dan nyanyi,design dan seni de-el-el.

tapi apa yg aku dapat hingga saat ini?? prestasi..blum ada yg bisa dibanggain,duit..dapetnya pun karena kerja d supermarket bukan karena bakatku tadi,,terus bagaimana bisa mereka mengatakan aku berbakat kalo sampai sekarang..19tahun aku gk punya sesuatu yg membanggakan..

aku ingat ROB,pelatih bola sekolahanku bilang…"kamu tuh tipe pemain yg gak perduli resiko,mempunyai jiwa juang tinggi dan bisa merubah permainan menjadi yg kamu inginkan"

PAUL,pelatihku d BIRKENHEAD UNITED bilang.."kamu tuh benar2 berbakat..aku gk bohong soal ini"

TERRY,pelatih tim junior d BIRKENHEAD UNITED bilang.."aku gak tau apa alasan pelatih gk pernah mainin kamu di pertandingan..padahal kamu adalah pemain yg bagus..jangan khawatir aku akan mencarikan jalan untukmu"

SAMMY bilang.."man,gambar d kamarmu bagus banget..kamu coba2 ikut gravity dong"

GRAHAM,guru design ku bilang.."hasil gambarmu ini sangat luar biasa untuk seorang yg baru di tahun pertama belajar graphic"

EDY,bilang.."man ngapain lw gk balik k indo aj terus main bola buat timnas"

semua berkata aku berbakat..tapi yg aku butuhin tu bukan komentar2 itu tadi tetapi yg aku butuhin adalah sebuah kepastian tentang hidup..tentang kemana mengalirnya hidup ini…