sepak bola mulut

Dalam tulisannya, Sepak Bola Mulut, di harian ini (30/6), Asvi Warman Adam tampak "sebal" dengan para komentator sepak bola kita yang cenderung asal berkomentar, padahal komentarnya tak lebih bermutu dari, seandainya, komentar itu diberikan oleh nenek-nenek.

Asvi tampak "jengkel" dengan komentator yang tampil gundul seakan-akan ingin mengesankan dirinya pemain sekelas dengan pemain gundul dari negara peserta Piala Dunia.

Asvi "geregetan" kepada komentator yang kalau berkomentar sepertinya lebih hebat daripada pemain dan pelatih tim Piala Dunia, padahal ketika dirinya jadi pelatih atau pemain nasional tak punya prestasi apa-apa. Kata Asvi, orang Indonesia ini hanya pandai sepak bola mulut, omong doang, tanpa pernah bisa membikin tim yang baik.

Untuk penilaian yang seperti itu, saya sama dengan Asvi. Bedanya, saya justru menikmati kehadiran komentator-komentator itu sebagai banyolan yang bisa menghilangkan kantuk, bukan komentar yang berisi analisis yang bisa dipercaya.

Bayangkan. Dalam sepak bola yang berlangsung tenang, anggun, dan memukau, justru komentator kita mengomentarinya dengan riuh, jauh lebih ramai daripada sepak bolanya itu sendiri, tapi tak jelas apa isinya. Itu yang lucu dan membikin tidak ngantuk. Dengan mendengar ocehan komentaator saja, rasa kantuk bisa hilang tanpa harus menyuruh istri membuat kopi merek tertentu.

Suap dan Dukun

Ketika tendangan seorang pemain melayang sedikit di atas mistar gawang, sang komentator mengatakan dengan penuh semangat, "kalau tak tersetuh betis bek, pasti tadi sudah masuk." Ya-lah, kalau hanya berkomentar seperti itu, bukan hanya nenek-nenek, tapi anak kecil juga bisa. Itu kan sama mudahnya dengan berkomentar, "kalau tadi tali kolor celana kipernya putus, bola pasti masuk. Sebab, kiper pasti lebih mengamankan celananya daripada menangkap bola. Atau, "kalau pemain lawan tadi tidur semua, pasti bola sudah masuk." Komentator kita lebih banyak melontarkan hal-hal yang tak mungkin terjadi.

Komentar-komentar konyol yang seperti itu, tampaknya, sejalan dengan ketidakseriusan kita dalam membina sepak bola, ingin mencapai kemenangan bukan dengan teknik yang bagus, melainkan dengan cara yang aneh-aneh. Maka, jangan heran jika dunia sepak bola kita kerapkali diwarnai isu yang aneh-aneh. Pada masa kepemimpinan Acub Zainal di PSSI, pernah diributkan dengan isu "babi suap" karena banyak yang ingin menang dengan menyuap wasit atau pemain lawan.

Ada juga isu "sepak bola gajah" bahwa sebuah kesebelasan sengaja mengalahkan diri dengan cara bermain seperti gajah yang gendiak-gendiuk. Yang konyol lagi, pernah ada istilah "sepak bola Pancasila" yang tak masuk akal sedikit pun. Katanya, Pancasila itu menghendaki kerukunan dan melarang liberalisme atau persaingan bebas.

Nah, di dalam sepak bola Pancasila dapat muncul juara bersama sehingga juara I-nya ada dua kesebelasan. Bagi saya, ini kekonyolan. Ini sungguh mempermainkan Pancasila.

Lebih dari itu, sportivitas yang harus dibangun di dalam sepak bola kerapkali juga diwarnai dengan perdukunan. Tentang ini, saya pernah mendengar cerita lucu dari Gus Dur. Sebutlah pada suatu waktu tim sepak bola Kecamatan Arjosari akan berhadapan dengan tim sepak bola Kecamatan Sidomukti.

Karena ingin menang, pimpinan persatuan sepak bola Arjosari meminta tolong kepada seorang dukun. "Baik, nanti saya buat 10 gol untuk kemenanganmu," kata sang dukun meyakinkan. Ternyata pertandingan berakhir dengan skor 5:5 sehingga pimpinan kesebelasan Arjosasri memprotes sang dukun yang telah dibayarnya dengan mahal. "Mbah, hasilnya kok seri 5:5, janjinya kami menang 10 gol." katanya. "Lho, tadi sudah saya tiup bola dari sini untuk 10 gol," jawab sang dukun. "Ya, golnya memang 10, tapi skornya 5:5. Babak pertama kami mencetak 5 gol, tapi pada babak kedua, setelah tukar tempat, kami kemasukan 5 gol. Sepuluh gol itu masuk ke gawang utara semua." kata pimpinan sepak bola Arjosari. "Ooh, sepak bola itu pakai tukar tempat, to? Saya tak tahu kalau ada tukar tempat; maka bola saya tiup ke gawang utara semua," jawab sang dukun enteng.

Mendengar timnya mau dikerjain lewat dukun pimpinan sepak bola Sidomukti panik, apalagi kesebelasan yang dipimpinnya lebih banyak kalah jika bertanding. Dia mendatangi seorang dukun lain untuk minta kemenangan pada pertandingan berikutnya. "Baik, kesebelasanmu akan menang. Tapi, siapkan 11 gram emas dan 11 kaus seragam. Kemudian, kertas yang telah saya tulisi mantera ini tanam di antara dua pohon pisang yang berada di belakang rumahmu itu," kata sang dukun dengan penuh wibawa. "Lho, Mbah di belakang rumah saya tak ada pohon pisang," jawab pimpinan sepak bola Sidomukti dengan heran.

Ketahuan bahwa sok tahunya ternyata salah, sang dukun sangat kaget. Tapi, dengan kecerdikannya, sang dukun cepat menjawab sambil seperti marah. "Pantas, kesebelasanmu sering kalah. Itu karena di belakang rumahmu tak ada pohon pisang. Segera tanam, ya," perintahnya.

Nasionalisme dan Lucu-lucuan

Meski pasti tak benar, mungkin akan ada yang menilai saya tak nasionalis jika harus jujur mengatakan bahwa saya tak berharap Piala Dunia diselenggarakan di Indonesia atau Indonesia ikut di dalamnya. Jika Asvi khawatir kalau Piala Dunia diselenggarakan di Indonesia bisa-bisa kepala para pemain dunia akan bocor dilempari botol oleh penonton Indonesia, kekhawatiran saya agak beda. Saya khawatir, jika Indonesia ikut dalam piala dunia, bisa-bisa jalannya Piala Dunia berlangsung tidak nyaman, menyebalkan, atau bahkan diwarnai isu suap dan perdukunan.

Rasa nasionalisme tentu tak bisa diukur dengan keinginan menikmati permainan sepak bola yang bermutu. Sungguh darah daging dan hati saya 100 persen Indonesia. Saya hanya ingin menikmati sepak bola kelas dunia dengan segala keindahannya. Biarlah Indonesia melahirkan komentator-komentator untuk lucu-lucuan saja dulu. Habis levelnya memang baru sampai di situ.

Moh. Mahfud M.D., anggota DPR dari PKB, penggemar sepak bola dan segala komentar lucunya.

Leave a Reply