orgasme football
Kolom Moammar Emka*
Pesta akbar Piala Dunia 2006 berakhir sudah. Ada tawa, ada tangis, itu biasa. Partai final antara Italia vs Prancis di Olympiastadion, Berlin, Senin dini hari menjadi saksi sejarah: Italia berhasil meraih gelar juara dunia untuk kali keempat, dan Prancis gagal menambah gelar paling "keren" sejagat itu untuk kali kedua.
Inikah sebuah klimaks? Inikah sebuah pencapaian akhir yang maksimal? Layaknya dalam permainan seks, orgasme menjadi muara dari segala keringat yang bercucuran. Aneka macam gaya dipergunakan demi mencapai titik kenikmatan yang hanya sepersekian detik itu. Dari gaya "Kera Manjat Pohon", "Baling-Baling Bambu", "Kolaborasi 69", "Doggy Styles" sampai gaya bermain yang tergolong ekstrem di mata umum seperti "Swing Partners", "Three-some", "Fantasi Sadomasochist" dan "Sandwich Triple Tuna".
Gaya apa pun ternyata tak menjanjikan hasil maksimal. Argentina dengan gaya Tango-nya dan Brazil dengan goyangan Samba-nya, kandas sebelum menembus babak semifinal. Belanda dengan total football-nya dan Inggris dengan Kick ’n Rush-nya sama-sama mengalami "ejakulasi dini" di babak perempat final.
"How to play!" Begitulah kata sebagian besar pakar seksologi ketika ditanya kunci kesuksesan dan keberhasilan dalam bercinta. Gaya atau model apa pun tidak menjadi jaminan mutu tanpa tahu bagaimana cara permainan Anda dan pasangan Anda. Tahu sama tahu dan saling mengerti satu sama lain. Tahu di mana titik-titik bagian tubuh paling sensitif yang harus disentuh, mengerti foreplay apa yang harus dimainkan, paham betul soal komunikasi "dua lini" dalam bercinta, dan tentunya, didukung tenaga superekstra yang tak cepat "letoy" terkena gesekan lawan.
Italia dan Prancis, suka atau tidak, berhasil menembus babak final karena merekalah tim yang tahu resep "How to play". Keduanya terseok-seok di babak penyisihan, tapi berhasil menyuguhkan permainan yang cantik setelah masuk ke babak 16 besar dan makin memesona ketika lolos ke babak perempat final dan semifinal. Italia dengan semangat tempur ala petinju Rocky Stallion meng-KO-kan Jerman dan Prancis dengan permainan indah ala peragawati di atas catwalk memaksa Brazil pulang kampung.
Inilah sebuah permainan. Tak bisa ditebak secara matematis, tak bisa direka-reka oleh bandar taruhan kelas kakap atau lewat kesaktian para paranormal sekalipun. Brazil dan Argentina yang secara matematis diunggulkan bisa mencapai titik "orgasme" dan menggondol gelar Piala Dunia, hanya sampai babak perempat final, tak lebih. Sebuah pencapaian yang membuat banyak penggila bola geleng-geleng kepala, mengingat dua tim tersebut bertabur superstar yang pantas disebut "maestro bola". Kesuksesan sebuah tim, ternyata tak ditentukan oleh seorang bintang atau bukan. Kesuksesan ditentukan oleh kerja sama tim yang bahu-membahu menciptakan permainan yang cantik. Fabio Grosso yang jadi pemain bertahan tim Azzurri, mana mungkin bisa mencetak sebuah gol indah ke gawang Jerman tanpa umpan manis dari Pirlo, sang playmaker.
Sekali lagi, inilah permainan. Akhir dari permainan itu telah mencatat Italia sebagai sang jawara dan Prancis sebagai runnep-up. Italia, mudah ditebak, merasakan klimaks yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Pesta dengan champagne dan bir yang tumpah ruah tak karuan, menjadi pemandangan semalam suntuk di seluruh pelosok negeri Italia. Itulah orgasme yang sebenarnya. Di tengah kemelut skandal suap yang mengguncang Liga Seri A, gelar juara yang berakhir dengan pesta suka cita itu setidaknya bisa menghapus citra buruk yang menghantui Negeri Pizza itu.
Italia, boleh jadi kini menikmati pencapaian orgasme yang berlebihan. Tapi, menurut hemat saya, kalau tim yang pantas mendapatkan pencapaian mutiple-orgasm adalah Jerman. Pertama, sebagai tuan rumah, Jerman sukses menggelar Piala Dunia 2006 dengan megah, mewah, dan meriah, serta -kalau ini disetujui- menumbuhkan aroma fairplay yang makin OK. Kedua, meski hanya sukses merebut gelar pemenang ketiga, Juergen Klinsmann diproklamasikan mampu membangkitkan revolusi sepak bola di negeri Mercedes itu.
Ketiga, Lukas Podolski dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2006. Keempat, Jerman lewat kebijakan legalisasi prostitusi berhasil membuat para penggila bola merasakan petualangan orgasme di bilik-bilik cinta atau di hotel mewah sekalipun. Lho kok?! ***
*) Moammar Emka, penulis buku best seller Jakarta Undercover.