ciao……
Sunday, July 16th, 2006| Rob Hughes |
Pesta Telah Usai
Tandukan kepala Zinedine Zidane terhadap Marco Materazzi menjadi peristiwa yang paling diingat sepanjang Piala Dunia 2006. Munculnya berbagai spekulasi di media massa membuat kasus ini terasa lebih menghebohkan ketimbang fakta yang terjadi di lapangan hijau.
Para jurnalis yang penasaran mencoba menebak kejadian sebenarnya pada laga final Germany 2006. Mereka bahkan menyewa ahli pembaca bibir untuk mengetahui apa yang dikatakan Materazzi sehingga membuat seorang pemain terhebat dunia menanduk dadanya.
Well, saya yakin kita tidak akan pernah tahu apa yang dikatakan Zidane dan Materazzi. Sejujurnya, saya juga tidak peduli. Zidane bertingkah laku bak seorang preman jalanan. Ini bukan pertama kali ia mengkhianati reputasinya dengan bertindak brutal. Apa yang dilakukan Zidane benar-benar tidak dapat dimaafkan.
Presiden Prancis, Jacques Chirac, menganggap Zidane sebagai sosok yang luar biasa. Saya setuju. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya tahu Zidane pria yang rendah hati.
Namun, fakta tersebut tidak bisa dijadikan alasan bagi Zizou untuk bertindak semaunya atau bagi keputusan FIFA, yang memilihnya sebagai Pemain Terbaik Germany 2006. Surat kabar Prancis, L’equipe, merupakan salah satu media massa yang berani mempertanyakan sikap Zizou.
Dengan sikap menyindir, surat kabar tersebut mengeluarkan pernyataan bahwa Zidane adalah seorang idola, jadi jangan mencoba menjatuhkannya. Namun, di bagian lain, L’equipe juga mempertanyakan apa yang akan diceritakan Zidane kepada anak-anaknya dan dunia tentang tingkah laku buruk yang ditunjukkannya.
Bagaimana kita bisa menilai kesuksesan Piala Dunia? Kekerasan yang dilakukan di pengujung turnamen membuat gol indah Philipp Lahm di partai perdana Germany 2006 seakan dilakukan di ajang yang berbeda.
Baik dan Buruk
Kita telah menyaksikan berbagai pelanggaran dan tingkah para bintang lapangan hijau yang gemar mendramatisasi suatu kejadian. Sementara itu, para wasit memulai turnamen dengan sangat baik. Seperti halnya pemain, mereka mulai kehilangan tenaga di bawah cuaca yang sangat panas dan lembap.
Namun, salah satu pemandangan terburuk di Piala Dunia 2006 adalah tingkah para pemain yang memohon-mohon agar wasit mengeluarkan pemain lawan. Jika itu yang dinamakan olahraga, lebih baik saya tidak ikut campur.
Satu-satunya hal indah yang mungkin tidak pernah kita saksikan sebelumnya adalah sikap masyarakat Jerman yang berani membuka diri kepada dunia. Pihak panitia memasang layar raksasa di taman-taman dan pusat kota agar penggila sepakbola yang tidak memiliki tiket tetap bisa menjadi bagian dari turnamen sepakbola paling bergengsi ini.
Saya akui ketika seseorang memberitahu bahwa Jerman akan menyediakan bir dan hiburan gratis kepada jutaan suporter sepakbola, saya berpikir hal itu adalah tindakan tergila yang pernah saya dengar. Para hooligan pasti akan membayar keramahan Jerman dengan aksi brutal.
Ternyata saya salah. Segelintir pembuat onar berhasil dikalahkan oleh dua juta orang yang datang ke Jerman untuk bersenang-senang.
Piala Dunia adalah jambore selama satu bulan penuh. Sebuah contoh bagus tentang bagaimana orang-orang yang berasal dari negara yang berbeda mampu berbagi keramahan yang ditawarkan warga Jerman.
Saya harus menjadi tamu kehormatan atau bahkan membayar untuk bisa berada di dalam stadion. Tetapi, kenangan terbaik saya adalah berbagi tontonan dengan 700 ribu orang di Gerbang Brandenburg di kota Berlin.
Tidak semua orang yang datang ke tempat itu merupakan pencinta sejati sepakbola. Sebagian dari mereka hanya datang untuk menikmati pertunjukan gratis. Namun, penggemar sepakbola sebenarnya, yang merasa kesal karena FIFA memberikan ribuan tiket untuk tamu-tamu khusus, tetap berkumpul di barisan depan.
Germany 2006 telah membuka sebuah dimensi baru. Di sisi lain, kesuksesan Jerman membuat kita semakin skeptis apakah Afrika Selatan mampu menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 yang jauh lebih baik? Apakah mereka memiliki infrastruktur yang mampu menyediakan keamanan yang memadai?
Untuk alasan tersebut, apakah Amerika, yang diramalkan bakal mengambil alih penyelenggaraan Piala Dunia jika Afrika tidak mampu, bersedia menyambut gelombang suporter sepakbola yang datang? Seperti yang disebutkan salah seorang pegawai FIFA kepada saya, pihak imigrasi Amerika kerap bersikap paranoid.
Pujian pantas ditujukan kepada Jerman. Mereka memanfaatkan Piala Dunia untuk memperlihatkan wajah yang lebih ramah kepada dunia dan mempertahankannya sejak awal hingga akhir turnamen.
Kesalahan Amerika Latin
Di lapangan, Argentina tetap menjadi tim yang paling menghibur. Inggris tidak mampu berbuat banyak. Jerman berubah ke arah yang positif di bawah arahan pelatih Juergen Klinsmann dan Italia memang pantas menyandang gelar juara dunia.
Mulai dari Gianluigi Buffon, kiper yang tidak pernah membuat kesalahan, Fabio Cannavaro, sang pemain belakang terbaik sepanjang turnamen, hingga Andrea Pirlo, gelandang paling kreatif. Wajar Italia disebut sebagai tim dengan kekuatan yang paling merata di setiap lini.
Meski hanya mampu menahan imbang Amerika Serikat di partai penyisihan grup, Italia berhasil menunjukkan penampilan yang luar biasa kala menyingkirkan Jerman di semifinal.
Brasil seakan asing dengan ritme asli mereka. Apa yang terjadi dengan senyum Ronaldinho? Saya ragu dengan pernyataan Ronaldinho, yang mengaku datang ke Piala Dunia hanya untuk membantu para striker, bukan untuk menciptakan gol. Jika itu adalah perintah dari atasan, artinya pelatih Carlos Alberto Parreira telah membuat kesalahan fatal.
Pertandingan terbaik pilihan saya adalah Meksiko versus Argentina. Duel yang berlangsung di Leipzig ini menampilkan permainan sepakbola murni. Kedua tim terlihat ngotot dalam melancarkan serangan.
Anehnya Argentina justru tak berdaya saat menghadapi Jerman. Saya berada di Olympiastadion dan saya yakin saat itu pelatih Jose Pekerman mencoba berkompromi dengan keyakinannya sendiri. Ia begitu takut akan kekuatan fisik para pemain Jerman sehingga memutuskan untuk tidak menurunkan Javier Saviola, mengganti Juan Riquelme, dan tidak memilih Lionel Messi.
Senin (10/7), sambil makan siang dengan beberapa petinggi FIFA, saya menanyakan apa yang harus dilakukan negara-negara Asia dan Afrika untuk menyeberangi jurang yang memisahkan kualitas mereka dengan persepakbolaan di Eropa dan Amerika Latin.
Jawabannya sederhana: ikuti jejak Argentina atau bahkan Italia. Tetapi, jangan pernah takut untuk memilih bakat-bakat terbaik yang ada dalam negeri. Namun, yang terpenting adalah perintahkan pemain-pemain Anda untuk mengambil yang terbaik dari Zidane dan menjauhkan mereka dari aksi brutalnya di laga pamungkas.