apa bisa Messi berkembang di indonesia???

MASUK 15 menit menjelang usai, Lionel Messi mampu "menyumbang" dua gol bagi Argentina yang melalap Serbia-Montenegro 6-0. Satu gol lewat umpan matang yang diselesaikan Hernan Crespo. Satu gol lagi diciptakannya sendiri. Messi meliuk-liuk melewati dua-tiga pemain Serbia sebelum akhirnya menjebol gawang yang dijaga Dragoslav Jevric. Bukan hanya pendukung Argentina dan penonton di stadion yang bersorak. Tapi, juga lebih dari satu miliar penonton yang menyaksikan Piala Dunia via teve. Maradona, sang legendaris Argentina, pun tampak exciting. Dia seperti kembali menegaskan bahwa Messi adalah reinkarnasi dirinya.

Beda dengan Maradona yang bengal, urakan, dan lekat dengan kontroversi (dia antaranya "gol tangan Tuhan" di gawang Inggris dan berbagai kasus narkoba), Messi berpenampilan kalem, low profile, dan berwajah bayi. Namun di balik wajahnya yang innocent itu, dia ternyata seorang "pembunuh" tim lawan. Penguasaan bolanya meyakinkan, seolah ada bergalon-galon lem yang membuat bola itu melekat di kakinya. Giringannya membikin lawan pontang-panting dan tembakannya pun mematikan. Kemampuannya yang sangat prima itu dicapai Messi dalam usia yang sangat muda: 19 tahun. Tak heran jika dunia menyambutnya sebagai the rising star.

The rising star itu kini sedang menyihir dunia. Dunia sudah lama menunggunya. Gelandang mungil tersebut sebelumnya mengalami cedera berat akibat digasak Asier Del Horno, bek Chelsea yang kini memperkuat Spanyol, dalam partai Chelsea vs Barcelona pada Liga Champion 2006.

Kelahiran Messi sebagai pemain besar membenarkan satu teori yang mengatakan bahwa pada setiap zaman akan lahir tokoh besar. Termasuk, dalam sepak bola. Seperti manusia, zaman pun memilik sifat bosan pada sosok atau sesuatu yang itu-itu saja. Sang zaman, dengan caranya yang dingin, akan melengserkan bintang-bintang lama yang sudah out of date, baik karena gerogotan usia maupun faktor potensi. Masa kejayaan Zidane, Ronaldo, Beckham, Roberto Carlos, dan lainnya telah surut. Ini membuktikan bahwa jatah popularitas dan ketokohan seorang bintang punya batas. Setiap orang tidak kuasa untuk memperpanjang "masa kontrak" popularitas itu. Kalau toh hal tersebut tetap dipaksakan, dunia akan tertawa melihat para tokoh "jadul" (zaman dulu). Dalam even Piala Dunia ini, para pemain yang sudah berkepala tiga tampak ngos-ngosan bersaing dengan pemain-pemain berusia muda yang lebih fresh, energik, dan kreatif.

Ini bedanya sepak bola dengan politik. Politik sebagai seni meraih dan mengelola serta mempertahankan kekuasaan sangat memungkinkan para tokoh untuk tetap bertahan dalam waktu yang lama. Lihatlah politisi dan aktor-aktor kekuasaan di Indonesia yang rata-rata berusia di atas kepala lima. Mereka dengan segala upaya melanggengkan kekuasaannya, meski secara objektif kurang mampu. Akibatnya, politisi generasi muda kurang mendapatkan ruang gerak untuk aktualisasi diri. Regenerasi sengaja dibikin macet. Dalam situasi pengap macam itu, kita sulit mengharapkan kinerja politik mereka yang segar, cerdas, visioner, dan berpihak kepada rakyat (karena mereka tidak pernah merasa dibesarkan oleh rakyat). Kita pun jadi paham, kenapa reformasi yang dicetuskan para anak muda, akhirnya, "mati suri". Sebab, yang tetap bercokol dan berkuasa tetap aktor-aktor lama yang ganti baju dan ganti rias atau topeng, tapi naskah serta orientasi "pementasannya" tak berubah: menyengsarakan rakyat.

Tak jauh dari jagat politik, sepak bola kita juga terjangkit wabah degenerasi pemain. Kita memang punya banyak pemain berbakat, semacam Boaz Salossa, Hamka Hamzah, dan lainnya. Namun, bakat-bakat itu tidak mendapatkan iklim pertumbuhan yang kondusif. Kompetisi Liga Indonesia belum menjadi ajang persaingan yang sepenuhnya bertumpu pada fair play dan profesionalisme. Ada banyak kepentingan di luar sepak bola yang bermain di sini. Lihatlah, PSSI yang punya hobi untuk tidak konsisten terhadap peraturan yang dibuatnya sendiri. PSSI cenderung bekerja dengan bergantung pada "ke mana angin bertiup" yang digerakkan kekuatan eksternal. Hasilnya adalah kompetisi yang tidak memenuhi standar (misalnya jumlah peserta Liga Indonesia Divisi Utama yang melampai jumlah ideal: 16 sampai 20 klub, bahkan 2007 nanti jumlah itu membengkak dari 28 klub menjadi 32 klub akibat menghilangkan sistem degradasi). Pemain semacam Messi sulit untuk lahir di sini!

(Indra Tranggono, pemerhati budaya, tinggal di Jogjakarta)

Leave a Reply