ada apa dengan PIALA DUNIA????
Kalau ada orang dari planet luar sekarang bertandang ke bumi, mereka pasti heran. Kenapa begitu banyak orang berkumpul di Jerman dari seluruh dunia. Mengapa mata ratusan juta manusia terus melotot ke televisi, tak mau kehilangan sedetik pun apa yang terjadi di lapangan 100 kali 50 meter itu setiap hari sampai subuh.
Triliunan duit yang mengalahkan jumlah anggaran belanja negara berhamburan ke sana kemari sebagai harga dari perhelatan itu. Sementara itu, 6 ribu jiwa sudah lewat begitu saja di Jogja dan sekitarnya dengan ratusan ribu penduduk yang akan menangis sepanjang tahun. Bahkan, barangkali, berpedih hati seumur hidupnya karena kehilangan yang tak mungkin dapat digantikan apa pun.
Seperti anak kucing, bintang-bintang yang membuat harga diri menciut, berlompatan seluruh penjuru dunia, hanya untuk berebut sebuah bola dalam World Cup 2006. Dada manusia penontonnya yang fanatik, gemeletuk setiap hari, terbawa oleh emosi dalam penantian kapan jala gawang lawan akan digetarkan bola yang diperebutkan selama 90 menit dengan segala macam taktik dan gaya. Semua tersihir sampai lupa daratan karena alangkah sulitnya untuk menendang sebuah bola saja.
Kebangsaan, agama, panutan politik, dan strata sosial yang biasanya begitu menyekat manusia sehingga bisa bunuh-bunuhan di dalam keadaan yang normal, melempem. Bola sudah mengoyak batas yang selama ini menjadi kendala manusia untuk bersaudara. Bola membawa perdamaian yang selama ini dikejar habis, tapi tanpa ada hasil oleh berbagai kedok usaha kemanusiaan yang buntut-buntutnya malah menyulut perang juga. Apa yang dirindukan John Lennon dalam lagu Imagine menjadi kenyataan dalam World Cup walau hanya satu bulan.
Tanpa ada setetes darah Jepang di tubuhnya, tanpa ada jalinan pertemanan atau kaitan akademis, seorang dosen di Universitas Brawijaya Malang menulis: "Semalam saya sempat sedih, Jepang tak kuasa menghadang Australia yang memang garang." Sementara seorang penjual tempe dengan muka bersinar melayani langganannya di perumahan Astya Puri, Jakarta, dan royal memberikan tambahan tempe karena Korea berhasil menghajar kesebelasan Togo 2-1. Padahal, letak Korea dalam peta saja dia tak tahu.
World Cup sudah pantas untuk dinobatkan sebagai pahlawan. Permainan yang kini paling membuat manusia "gila" itu telah melakukan diplomasi dan transformasi budaya yang setara dengan kiprah para negarawan-budayawan yang pernah mendapat hadiah nobel perdamaian. Dan, yang sangat penting adalah World Cup bukan seseorang, bukan juga sebuah pihak, aliran, negara atau ideologi, tetapi sebuah peristiwa manusia seluruh dunia. World Cup sudah menjadi sebuah tantangan terhadap orientasi pemberian hadiah yang selama ini selalu dikaitkan dengan orang. World Cup adalah penggembosan terhadap kultus, baik kultus individu, kultus ideologi, maupun kultus keyakinan.
Memang, kekerasan juga sudah muncul sebagai bagian dari taifun sepak bola. Seorang pemain ditembak oleh pemujanya yang merasa kecewa. Para pendukung fanatik menjadi edan-brutal, melakukan penganiayaan, perusakan, dan pelanggaran hukum ketika matanya sudah gelap. Sejarah sudah mencatat sepak bola pun berdarah. Tetapi, apa yang tidak berdarah? Keyakinan saja sudah berdarah dan terpakai oleh oknum-oknum tertentu untuk membenarkan yang mau dijadikan paling benar.
Yang sangat menarik adalah sepak bola boleh disentuh setiap orang dengan gampang. Dari presiden sampai bintang selebriti dan kere. Tidak ada yang menjadi bos yang memonopolinya. Meskipun menyangkut omzet yang triliunan, sepak bola adalah permainan yang paling murah. Bahkan, tanpa ada bola, hanya sebuah jeruk Bali, permainan bisa dilaksanakan.
Kebesaran sebuah negara tak berarti juga sepak bolanya maju. Jumlah penduduk bukan ukuran. Bahkan, keampuhan ekonomi untuk membeli triliunan bola, membuat lapangan bola, membangun stadion bola, mendirikan sekolah, liga, dan membayar pemain-pemain bola profesional tak membuat sebuah negara langsung menjadi juara dalam World Cup.
Sepak bola adalah sebuah terobosan yang memperolokkan teknologi, ekonomi, kekuatan politik, dan sebagainya yang selama ini menjadi berhala-berhala yang mengendalikan dunia. Bukan hanya duit dan senjata yang menentukan jalannya sejarah manusia, tetapi juga World Cup. Memang bukan hanya sepak bola, tapi semua olahraga yang menjadi semacam revolusi budaya dalam dunia. Namun, di antara semua cabang olahraga itu, World Cup yang paling "heboh" mengendalikan saraf manusia di seluruh dunia.
Kita tak habis pikir, mengapa orang berebut mau pergi ke Jerman. Padahal, apa yang terjadi di situ sudah langsung tertayang di televisi, tanpa harus membelanjakan ribuan dolar dan berdesakan di antara penonton. Semuanya tersaji bahkan dengan sangat mewah dan memanjakan. Kamera televisi membawa pemirsa ke kaki pemain, ke wajahnya, ke reaksi pelatih, dan ke bola yang menghantam jala, yang tak semuanya bisa tertangkap bila menonton langsung. Toh orang masih ngotot datang. Kehabisan karcis pun jadi, asal bisa menonton di luar stadion. Minimal di atas tanah yang sedang dipijak oleh para pemain.
Inilah misteri World Cup yang tak masuk akalnya dalil ekonomi. Orang sudah dibuat tidak peduli lagi pada duit oleh bola. Doku di-KO karena bukan uanglah selamanya, apalagi satu-satunya tujuan terpenting manusia. Kepuasan hati, kebahagiaan batin, kenyamanan pikiran adalah segala-galanya. Sepak bola menyadarkan kita kembali kepada satu hal yang sudah sering dilupakan, yakni rasa. Rasalah yang sudah dikembalikan oleh World Cup sehingga permainan menyepak bola itu menjadi terapi universal yang mengobati penyakit dunia.
Tetapi, ada syaratnya. Sepak bola tetap hanya sepak bola apabila hanya dilihat sebagai sepak bola. Peristiwa World Cup yang berlangsung 4 tahun sekali menjadi tak ada artinya kalau dipotong hanya saat pertandingan final. Sebagai terapi rasa, mukjizatnya akan hilang. Pertandingan final hanya sebuah pertandingan yang sama saja dengan judi karena akhirnya hanya kalah atau menang.
World Cup adalah sebuah peristiwa yang berlangsung selama 4 tahun terus-menerus. Dari masa pasca-World Cup sampai ke awal babak penyisihan. Dan, ketika kemudian sampai ke perhelatan puncak, World Cup menjadi sebuah prosesi yang panjang. Hanya, mereka yang mengikuti sejak awal akan dapat merasakan sentuhannya yang luar biasa.
Perjalanan Korea sampai mengalahkan Togo 2-1 adalah sebuah langkah maraton. Dan, siapa pun nanti yang berlaga di final untuk memperebutkan predikat juara adalah sebuah puncak gunung yang mencatat perjalanan yang penuh kegigihan, kegagahan, dan upaya manusia-manusia pendukungnya, baik sebagai individu maupun tim.
Menonton World Cup baru benar-benar menonton bila menekuni seluruh prosesnya. Bila di babak final nanti ternyata bukan kesebelasan yang kita jagokan berlaga, tidak ada yang harus dikecewakan. Bahkan, bila duel itu tidak dipersembahkan oleh bintang-bintang pujaan kita karena mereka sudah dipentung kartu merah, perhelatan itu masih akan tetap merupakan sebuah puncak. World Cup bukan hanya pertandingan, tetapi sebuah prosesi, terapi, dan penggembosan. Sebuah upaya perdamaian dan penegakan kemanusiaan. (*)
Jakarta 14 Juni 06
*) Putu Wijaya, budayawan, tinggal di Jakarta