melodi paling perih
Thursday, June 29th, 2006 Kolom Zen Rachmat Sugito*
Menyaksikan kekalahan dramatis Belanda oleh Portugal Senin (26/6) dini hari, saya langsung ingat Johan Cruyff. Pada satu momen, beberapa saat usai kekalahan Belanda oleh Jerman Barat di final Piala Dunia 1974, dia berkata, "Kami mati dalam keindahan."
Ketika itu, Cruyff menjadi kapten kesebelasan Belanda, diakui sebagai salah satu tim terbaik yang pernah dilahirkan sejarah sepak bola dunia, yang bermain begitu impresif sepanjang turnamen harus puas dengan predikat Juara Tanpa Mahkota. Pernyataan Cruyff yang nyaris seperti sebuah elegi itu di kemudian hari ternyata bermakna ganda: (1) sebagai manifesto bermain bagi kesebelasan Belanda dan (2) sering pula serasa menjadi semacam tulah.
Kebetulan, kematian (baca: kekalahan) yang indah itu terjadi hanya beberapa tahun setelah sastrawan Jepang Yukio Mishima melakukan seppuku (bunuh diri dengan merobek perut yang diteruskan dengan aksi pemenggalan kepala) hanya beberapa menit setelah dia gagal meyakinkan sepasukan tentara Jepang di satu pos militer Tokyo dan publik Jepang secara umum untuk kembali ke jalan samurai yang asketik ketimbang menjadi negeri kapitalis.
Jalan kematian yang ditunjukkan Mishima begitu dramatis karena semua dilakukan secara terang-terangan di bawah raungan suara helikopter yang membawa kamera TV-TV Jepang yang meliput pidato terakhir Mishima, lengkap detik-detik terakhir hidupnya (bayangkan seorang Pram, misalnya, menyerbu pos militer, menyandera komandannya, dan lantas melakukan bunuh diri). Cara Mishima menjemput ajal laiknya sebuah pentas teater saja: dramatis sekaligus indah.
Sastrawan yang saat kematiannya sedang dinominasikan sebagai kandidat peraih Nobel 1970 itu tak pernah dianggap bodoh atau konyol. Dia tetap dihormati, bukan hanya karena dia bersama Kawabata dianggap sebagai pelopor gerakan post war literature saja, melainkan dia dihormati karena dianggap gahar dalam menjunjung prinsip yang diyakininya. Prinsip yang baginya jauh lebih punya harga tinimbang nobel sekalipun.
Sama dengan parafrase yang diungkapkan Cruyf di atas, yang dirasakan begitu berarti. Tak hanya Cruyff dan Belanda tahu betul seperti apa rasanya mati dalam keindahan itu, tetapi juga karena parafrase itu menyiratkan sebuah kesetiaan yang nyaris tanpa batas terhadap sebuah prinsip bermain bola khas Belanda: menyerang dan menyerang. Dengan cara yang indah, tentu saja.
Dan, publik Belanda, seperti orang Jepang memandang Mishima, juga tak pernah menganggap parafrase Cruyf itu sebagai konyol. Sejak kekalahan itu, publik Belanda seperti terbiasa untuk mentransendir kekalahan usai kesebelasannya bermain indah, sebagai kekalahan yang membanggakan, atau dalam kata-kata Cruyff, "kematian dalam keindahan".
Pernyataan itu akhirnya juga menjadi manifesto sepak bola Belanda karena sejak itu anak-anak Belanda hanya tahu bagaimana cara bermain menyerang total, semua maju sewaktu menyerang, semua bertahan kala diserang. Segalanya dilakukan demi sebuah kemenangan dan tentu saja demi sebuah keindahan.
Anak-anak Belanda bukannya tak tahu risiko bermain dengan cara gila macam itu. Tercatat hanya sekali kesebelasan Belanda sukses dengan sistem total football. Yaitu, ketika generasi Basten-Gullit-Rijkaard-Koeman sukses membawa Belanda menjadi juara Eropa pada 1988 di kandang Jerman Barat. Selebihnya gagal tanpa memboyong piala.
Dikalahkan Argentina di final Piala Dunia 1978, dikalahkan Brazil di perempat final Piala Dunia 1994 dengan skor 3-2, ditewaskan kembali oleh Brazil di semifinal Piala Dunia 1998 lewat adu penalti (3 partai itu, plus kekalahan 1974, ditahbiskan sebagai partai terbaik di masing-masing turnamen), dan terakhir dikalahkan Italia juga lewat penalti pada semifinal Piala Eropa 2000.
Seperti Teater
Pertandingan Belanda-Portugal kemarin tak ubahnya seperti sebuah pentas teater. Di sana ada dua "skrip" memesona (total football Belanda dan samba Eropa ala Portugal), dua sutradara hebat (Basten-Scolari), karakter-karakter dengan naluri menyerang yang kuat (Figo-Persie, Ronaldo-Robben), suspense yang mendebarkan (4 kartu merah dan 16 kartu kuning), ending yang mengejutkan (kekalahan Belanda itu sendiri), dan sebuah epilog yang mencerahkan (keakraban Deco-Bronchorst dan aplaus penonton Portugal untuk pemain Belanda yang dengan kompak menyapa mereka usai pertandingan).
Sebagai pelatih, Basten tahu betapa berbahayanya Portugal. Tetapi, nyaris mustahil Basten memilih bertahan. Dan, seperti itulah yang terjadi. Hanya dalam tempo tiga menit di awal permainan, Belanda sudah membikin panik pertahanan Portugal lewat dua shooting berbahaya. Dan, sejak itu, Portugal seperti kehilangan akal. Anak-anak Belanda bermain seperti air bah yang baru saja menjebol dam Sungai Amstel.
Gol brilian Maniche pada pertengahan babak pertama bukannya membuat anak-anak Belanda runtuh. Mereka makin tersengat. Gol itu seperti listrik bagi handphone yang baterainya masih terisi penuh. Berkali-kali anak-anak Belanda sukses membikin pertahanan Portugal lintang pukang. Tendangan Cocu membentur tiang, tendangan memutar Kuyt diblok Ricardo, dan sehimpun peluang emas lainnya. Belanda makin membabi buta setelah Costinha di-"merah"-kan wasit. Kartu merah susulan yang diterima Boulachrouz tetap tak membikin anak-anak Belanda surut.
Pertandingan itu sendiri berlangsung sangat emosional. Temponya tinggi. Tekanan bertubi-tubi memaksa Portugal bertahan dengan segala cara, mulai menahan bola dengan tangan (Costinha), menahan bola selama mungkin (Deco dan Ricardo), hingga menyundul kepala lawan (Figo). Belanda yang dari sononya anti dengan segala yang lambat akhirnya sering terpancing. Boluachrouz menyikut Figo. Van Deer Vart mendorong Carvalho.
Semuanya jelas diganjar hukuman. Inilah yang seru. Empat kartu merah melayang (Costinha, Deco, Boulachrouz, Bronchorst), 16 kartu kuning, plus dua kali insiden saling dorong di antara dua tim. Dramatis.
Tetapi, ada yang indah di sana. Ketika Bronchorst dikeluarkan, dia tak bergabung dengan kawan-kawannya di bench. Dia memilih duduk berdampingan di tangga penonton dengan Deco, lawannya. Keduanya sempat bertukar cakap. Dan, di akhir pertandingan, usai kekalahannya yang perih, anak-anak Belanda berkumpul dan mendekati suporter Portugal, menyapa mereka. Suporter Portugal pun seperti tak ingin absen dari "pentas teater" ini dengan memberikan aplaus panjang kepada anak-anak Belanda yang mendekati mereka.
Komplet sudah. Sebuah pertandingan hebat, menegangkan, keras, emosional, dan dramatis, tetapi tetap diakhiri keakraban yang tulus, yang akan dirasa aneh bagi publik sepak bola Indonesia yang terbiasa berkelahi tiap pertandingan usai digelar. Itulah sebentuk keakraban yang membuat Nelson Mandela optimistis bahwa sepak bola bisa menjadi inspirasi bagi gerakan global philanthropic (perdamaian dunia).
Mengakrabi Kematian dan Kutukan
Bagi publik Belanda, kekalahan tetap kekalahan. Dan tidak ada kematian (baca: kekalahan) yang menyenangkan, betapa pun kematian itu berlangsung dengan cara yang indah.
Saya kemudian ingat sebuah judul puisi Soebagio Sastrowardoyo: "Dan Kematian Pun Semakin Akrab". Barangkali, sajak Soebagio Sastrowardoyo itu menjadi pas untuk dikirimkan sebagai "kado" kematian bagi publik Belanda.
Ya, apa boleh buat, publik Belanda, tampaknya, akan semakin akrab dengan kematian. Itulah sebabnya di awal tulisan ini saya menyebut: selain menjadi manifesto permainan yang membuat permainan Belanda selalu ditunggu, pernyataan Cruyff akhirnya juga terasa seperti sebuah kutuk! (*)
*) Zen Rachmat Sugito, editor Jurnal NAGARA WEEKLY