Archive for June, 2006

melodi paling perih

Thursday, June 29th, 2006

Kolom Zen Rachmat Sugito*
Menyaksikan kekalahan dramatis Belanda oleh Portugal Senin (26/6) dini hari, saya langsung ingat Johan Cruyff. Pada satu momen, beberapa saat usai kekalahan Belanda oleh Jerman Barat di final Piala Dunia 1974, dia berkata, "Kami mati dalam keindahan."

Ketika itu, Cruyff menjadi kapten kesebelasan Belanda, diakui sebagai salah satu tim terbaik yang pernah dilahirkan sejarah sepak bola dunia, yang bermain begitu impresif sepanjang turnamen harus puas dengan predikat Juara Tanpa Mahkota. Pernyataan Cruyff yang nyaris seperti sebuah elegi itu di kemudian hari ternyata bermakna ganda: (1) sebagai manifesto bermain bagi kesebelasan Belanda dan (2) sering pula serasa menjadi semacam tulah.

Kebetulan, kematian (baca: kekalahan) yang indah itu terjadi hanya beberapa tahun setelah sastrawan Jepang Yukio Mishima melakukan seppuku (bunuh diri dengan merobek perut yang diteruskan dengan aksi pemenggalan kepala) hanya beberapa menit setelah dia gagal meyakinkan sepasukan tentara Jepang di satu pos militer Tokyo dan publik Jepang secara umum untuk kembali ke jalan samurai yang asketik ketimbang menjadi negeri kapitalis.

Jalan kematian yang ditunjukkan Mishima begitu dramatis karena semua dilakukan secara terang-terangan di bawah raungan suara helikopter yang membawa kamera TV-TV Jepang yang meliput pidato terakhir Mishima, lengkap detik-detik terakhir hidupnya (bayangkan seorang Pram, misalnya, menyerbu pos militer, menyandera komandannya, dan lantas melakukan bunuh diri). Cara Mishima menjemput ajal laiknya sebuah pentas teater saja: dramatis sekaligus indah.

Sastrawan yang saat kematiannya sedang dinominasikan sebagai kandidat peraih Nobel 1970 itu tak pernah dianggap bodoh atau konyol. Dia tetap dihormati, bukan hanya karena dia bersama Kawabata dianggap sebagai pelopor gerakan post war literature saja, melainkan dia dihormati karena dianggap gahar dalam menjunjung prinsip yang diyakininya. Prinsip yang baginya jauh lebih punya harga tinimbang nobel sekalipun.

Sama dengan parafrase yang diungkapkan Cruyf di atas, yang dirasakan begitu berarti. Tak hanya Cruyff dan Belanda tahu betul seperti apa rasanya mati dalam keindahan itu, tetapi juga karena parafrase itu menyiratkan sebuah kesetiaan yang nyaris tanpa batas terhadap sebuah prinsip bermain bola khas Belanda: menyerang dan menyerang. Dengan cara yang indah, tentu saja.

Dan, publik Belanda, seperti orang Jepang memandang Mishima, juga tak pernah menganggap parafrase Cruyf itu sebagai konyol. Sejak kekalahan itu, publik Belanda seperti terbiasa untuk mentransendir kekalahan usai kesebelasannya bermain indah, sebagai kekalahan yang membanggakan, atau dalam kata-kata Cruyff, "kematian dalam keindahan".

Pernyataan itu akhirnya juga menjadi manifesto sepak bola Belanda karena sejak itu anak-anak Belanda hanya tahu bagaimana cara bermain menyerang total, semua maju sewaktu menyerang, semua bertahan kala diserang. Segalanya dilakukan demi sebuah kemenangan dan tentu saja demi sebuah keindahan.

Anak-anak Belanda bukannya tak tahu risiko bermain dengan cara gila macam itu. Tercatat hanya sekali kesebelasan Belanda sukses dengan sistem total football. Yaitu, ketika generasi Basten-Gullit-Rijkaard-Koeman sukses membawa Belanda menjadi juara Eropa pada 1988 di kandang Jerman Barat. Selebihnya gagal tanpa memboyong piala.

Dikalahkan Argentina di final Piala Dunia 1978, dikalahkan Brazil di perempat final Piala Dunia 1994 dengan skor 3-2, ditewaskan kembali oleh Brazil di semifinal Piala Dunia 1998 lewat adu penalti (3 partai itu, plus kekalahan 1974, ditahbiskan sebagai partai terbaik di masing-masing turnamen), dan terakhir dikalahkan Italia juga lewat penalti pada semifinal Piala Eropa 2000.

Seperti Teater

Pertandingan Belanda-Portugal kemarin tak ubahnya seperti sebuah pentas teater. Di sana ada dua "skrip" memesona (total football Belanda dan samba Eropa ala Portugal), dua sutradara hebat (Basten-Scolari), karakter-karakter dengan naluri menyerang yang kuat (Figo-Persie, Ronaldo-Robben), suspense yang mendebarkan (4 kartu merah dan 16 kartu kuning), ending yang mengejutkan (kekalahan Belanda itu sendiri), dan sebuah epilog yang mencerahkan (keakraban Deco-Bronchorst dan aplaus penonton Portugal untuk pemain Belanda yang dengan kompak menyapa mereka usai pertandingan).

Sebagai pelatih, Basten tahu betapa berbahayanya Portugal. Tetapi, nyaris mustahil Basten memilih bertahan. Dan, seperti itulah yang terjadi. Hanya dalam tempo tiga menit di awal permainan, Belanda sudah membikin panik pertahanan Portugal lewat dua shooting berbahaya. Dan, sejak itu, Portugal seperti kehilangan akal. Anak-anak Belanda bermain seperti air bah yang baru saja menjebol dam Sungai Amstel.

Gol brilian Maniche pada pertengahan babak pertama bukannya membuat anak-anak Belanda runtuh. Mereka makin tersengat. Gol itu seperti listrik bagi handphone yang baterainya masih terisi penuh. Berkali-kali anak-anak Belanda sukses membikin pertahanan Portugal lintang pukang. Tendangan Cocu membentur tiang, tendangan memutar Kuyt diblok Ricardo, dan sehimpun peluang emas lainnya. Belanda makin membabi buta setelah Costinha di-"merah"-kan wasit. Kartu merah susulan yang diterima Boulachrouz tetap tak membikin anak-anak Belanda surut.

Pertandingan itu sendiri berlangsung sangat emosional. Temponya tinggi. Tekanan bertubi-tubi memaksa Portugal bertahan dengan segala cara, mulai menahan bola dengan tangan (Costinha), menahan bola selama mungkin (Deco dan Ricardo), hingga menyundul kepala lawan (Figo). Belanda yang dari sononya anti dengan segala yang lambat akhirnya sering terpancing. Boluachrouz menyikut Figo. Van Deer Vart mendorong Carvalho.

Semuanya jelas diganjar hukuman. Inilah yang seru. Empat kartu merah melayang (Costinha, Deco, Boulachrouz, Bronchorst), 16 kartu kuning, plus dua kali insiden saling dorong di antara dua tim. Dramatis.

Tetapi, ada yang indah di sana. Ketika Bronchorst dikeluarkan, dia tak bergabung dengan kawan-kawannya di bench. Dia memilih duduk berdampingan di tangga penonton dengan Deco, lawannya. Keduanya sempat bertukar cakap. Dan, di akhir pertandingan, usai kekalahannya yang perih, anak-anak Belanda berkumpul dan mendekati suporter Portugal, menyapa mereka. Suporter Portugal pun seperti tak ingin absen dari "pentas teater" ini dengan memberikan aplaus panjang kepada anak-anak Belanda yang mendekati mereka.

Komplet sudah. Sebuah pertandingan hebat, menegangkan, keras, emosional, dan dramatis, tetapi tetap diakhiri keakraban yang tulus, yang akan dirasa aneh bagi publik sepak bola Indonesia yang terbiasa berkelahi tiap pertandingan usai digelar. Itulah sebentuk keakraban yang membuat Nelson Mandela optimistis bahwa sepak bola bisa menjadi inspirasi bagi gerakan global philanthropic (perdamaian dunia).

Mengakrabi Kematian dan Kutukan

Bagi publik Belanda, kekalahan tetap kekalahan. Dan tidak ada kematian (baca: kekalahan) yang menyenangkan, betapa pun kematian itu berlangsung dengan cara yang indah.

Saya kemudian ingat sebuah judul puisi Soebagio Sastrowardoyo: "Dan Kematian Pun Semakin Akrab". Barangkali, sajak Soebagio Sastrowardoyo itu menjadi pas untuk dikirimkan sebagai "kado" kematian bagi publik Belanda.

Ya, apa boleh buat, publik Belanda, tampaknya, akan semakin akrab dengan kematian. Itulah sebabnya di awal tulisan ini saya menyebut: selain menjadi manifesto permainan yang membuat permainan Belanda selalu ditunggu, pernyataan Cruyff akhirnya juga terasa seperti sebuah kutuk! (*)
*) Zen Rachmat Sugito, editor Jurnal NAGARA WEEKLY

apa bisa Messi berkembang di indonesia???

Monday, June 19th, 2006

MASUK 15 menit menjelang usai, Lionel Messi mampu "menyumbang" dua gol bagi Argentina yang melalap Serbia-Montenegro 6-0. Satu gol lewat umpan matang yang diselesaikan Hernan Crespo. Satu gol lagi diciptakannya sendiri. Messi meliuk-liuk melewati dua-tiga pemain Serbia sebelum akhirnya menjebol gawang yang dijaga Dragoslav Jevric. Bukan hanya pendukung Argentina dan penonton di stadion yang bersorak. Tapi, juga lebih dari satu miliar penonton yang menyaksikan Piala Dunia via teve. Maradona, sang legendaris Argentina, pun tampak exciting. Dia seperti kembali menegaskan bahwa Messi adalah reinkarnasi dirinya.

Beda dengan Maradona yang bengal, urakan, dan lekat dengan kontroversi (dia antaranya "gol tangan Tuhan" di gawang Inggris dan berbagai kasus narkoba), Messi berpenampilan kalem, low profile, dan berwajah bayi. Namun di balik wajahnya yang innocent itu, dia ternyata seorang "pembunuh" tim lawan. Penguasaan bolanya meyakinkan, seolah ada bergalon-galon lem yang membuat bola itu melekat di kakinya. Giringannya membikin lawan pontang-panting dan tembakannya pun mematikan. Kemampuannya yang sangat prima itu dicapai Messi dalam usia yang sangat muda: 19 tahun. Tak heran jika dunia menyambutnya sebagai the rising star.

The rising star itu kini sedang menyihir dunia. Dunia sudah lama menunggunya. Gelandang mungil tersebut sebelumnya mengalami cedera berat akibat digasak Asier Del Horno, bek Chelsea yang kini memperkuat Spanyol, dalam partai Chelsea vs Barcelona pada Liga Champion 2006.

Kelahiran Messi sebagai pemain besar membenarkan satu teori yang mengatakan bahwa pada setiap zaman akan lahir tokoh besar. Termasuk, dalam sepak bola. Seperti manusia, zaman pun memilik sifat bosan pada sosok atau sesuatu yang itu-itu saja. Sang zaman, dengan caranya yang dingin, akan melengserkan bintang-bintang lama yang sudah out of date, baik karena gerogotan usia maupun faktor potensi. Masa kejayaan Zidane, Ronaldo, Beckham, Roberto Carlos, dan lainnya telah surut. Ini membuktikan bahwa jatah popularitas dan ketokohan seorang bintang punya batas. Setiap orang tidak kuasa untuk memperpanjang "masa kontrak" popularitas itu. Kalau toh hal tersebut tetap dipaksakan, dunia akan tertawa melihat para tokoh "jadul" (zaman dulu). Dalam even Piala Dunia ini, para pemain yang sudah berkepala tiga tampak ngos-ngosan bersaing dengan pemain-pemain berusia muda yang lebih fresh, energik, dan kreatif.

Ini bedanya sepak bola dengan politik. Politik sebagai seni meraih dan mengelola serta mempertahankan kekuasaan sangat memungkinkan para tokoh untuk tetap bertahan dalam waktu yang lama. Lihatlah politisi dan aktor-aktor kekuasaan di Indonesia yang rata-rata berusia di atas kepala lima. Mereka dengan segala upaya melanggengkan kekuasaannya, meski secara objektif kurang mampu. Akibatnya, politisi generasi muda kurang mendapatkan ruang gerak untuk aktualisasi diri. Regenerasi sengaja dibikin macet. Dalam situasi pengap macam itu, kita sulit mengharapkan kinerja politik mereka yang segar, cerdas, visioner, dan berpihak kepada rakyat (karena mereka tidak pernah merasa dibesarkan oleh rakyat). Kita pun jadi paham, kenapa reformasi yang dicetuskan para anak muda, akhirnya, "mati suri". Sebab, yang tetap bercokol dan berkuasa tetap aktor-aktor lama yang ganti baju dan ganti rias atau topeng, tapi naskah serta orientasi "pementasannya" tak berubah: menyengsarakan rakyat.

Tak jauh dari jagat politik, sepak bola kita juga terjangkit wabah degenerasi pemain. Kita memang punya banyak pemain berbakat, semacam Boaz Salossa, Hamka Hamzah, dan lainnya. Namun, bakat-bakat itu tidak mendapatkan iklim pertumbuhan yang kondusif. Kompetisi Liga Indonesia belum menjadi ajang persaingan yang sepenuhnya bertumpu pada fair play dan profesionalisme. Ada banyak kepentingan di luar sepak bola yang bermain di sini. Lihatlah, PSSI yang punya hobi untuk tidak konsisten terhadap peraturan yang dibuatnya sendiri. PSSI cenderung bekerja dengan bergantung pada "ke mana angin bertiup" yang digerakkan kekuatan eksternal. Hasilnya adalah kompetisi yang tidak memenuhi standar (misalnya jumlah peserta Liga Indonesia Divisi Utama yang melampai jumlah ideal: 16 sampai 20 klub, bahkan 2007 nanti jumlah itu membengkak dari 28 klub menjadi 32 klub akibat menghilangkan sistem degradasi). Pemain semacam Messi sulit untuk lahir di sini!

(Indra Tranggono, pemerhati budaya, tinggal di Jogjakarta)

David Beckham dan Magnus Effect

Sunday, June 18th, 2006

SIAPA yang tak ingin memiliki tendangan indah ala David Beckham. Peneliti dari Sheffield Hallam University, Dr. David James, melakukan penelitian yang menjelaskan secara ilmiah bagaimana tendangan pemain Timnas Inggris itu bisa begitu mematikan.

Hasil tendangan pemain tengah Real Madrid ini memiliki "efek berputar" sehingga bisa membelok dan sulit diantisipasi kiper lawan. James menjelaskan, tendangan Beckham memiliki daya lontar yang unik.

Dalam presentasi hasil penetiliannya di Cheltenham Science Festival, dia memberi istilah gaya menendang ala Beckham itu dengan sebutan "Magnus Effect." Artinya, arah tendangan bisa berbeda dengan arah memutar bola. "Ujung-ujungnya, lawan akan kebingungan karena arah tendangan akan berbeda dengan arah beloknya bola," papar James.

"Jika perputaran bola sesuai dengan arah aliran udara, maka itu akan menghasilkan tekanan yang rendah. Arah bola pun akan memutar sesuai dengan arah udara saat itu. Sebaliknya, tekanan tinggi akan menekan bagian lain bola tersebut," jelasnya.

Dipaparkan, kombinasi antara kekuatan tendangan dengan tekanan udara akan menyebabkan bola berbelok arah, sesuai sisi mana kekuatan terbesar terhadap bola tersebut. Bola bisa berbelok ke samping, atas, atau ke bawah bergantung perputaran bola.

Masih menurut James, cara ini merupakan cara yang cerdas untuk mengurangi kontak fisik dengan pemain lain. Kemungkinan terjadinya tackle atau adu fisik dapat dikurangi. "Nah, para pelatih juga bisa mengembangkan strategi ini saat tendangan bebas dan tendangan pojok dengan tendangan gaya membelok (deflection)," bebernya.

James menjelaskan, pola jahitan yang mengitari bola itu juga bisa menjadi faktor penting yang mempengaruhi arah tendangan. "Tingkat kekasaran bola yang diakibatkan oleh pola jahitan bola bisa jadi penghambat laju belokan bola. Pola jahitan juga akan menentukan mudah tidaknya bola melayang di udara," kata James. Dia mencontohkan ikan yang mudah berenang di dalam air karena memiliki tingkat kekasaran kulit yang sesuai dengan skala tertentu.

Bagaimana bola Adidas Teamgeist yang menjadi bola resmi di Piala Dunia 2006? Dia mengatakan, bola ini mendukung tendangan-tendangan yang menggunakan efek tertentu. Selain karena tingkat kekasaran bolanya rendah, menurut dia, bola itu juga memiliki penampang yang lebih luas karena jahitan pada bola yang lebih sedikit.

James juga mengatakan, sepatu bola juga merupakan ilmu pengetahun yang dapat diteliti lebih jauh. Gaya menendang seorang pemain dapat dipengaruhi oleh kelembutan, alas sepatu dan pola jahitan sepatu pemain bola yang bersangkutan.

Bahkan, ilmu dan teknologi juga bisa jadi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari penentuan kebijakan dalam bermain.

Ilmu pengetahun bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sepak bola. Tapi, "Tentu saya tidak akan beradu argumen dengan David Beckham soal bagaimana cara dia menendang bola. Dia lebih tahu," kelakarnya.

ada apa dengan PIALA DUNIA????

Sunday, June 18th, 2006

Kalau ada orang dari planet luar sekarang bertandang ke bumi, mereka pasti heran. Kenapa begitu banyak orang berkumpul di Jerman dari seluruh dunia. Mengapa mata ratusan juta manusia terus melotot ke televisi, tak mau kehilangan sedetik pun apa yang terjadi di lapangan 100 kali 50 meter itu setiap hari sampai subuh.

Triliunan duit yang mengalahkan jumlah anggaran belanja negara berhamburan ke sana kemari sebagai harga dari perhelatan itu. Sementara itu, 6 ribu jiwa sudah lewat begitu saja di Jogja dan sekitarnya dengan ratusan ribu penduduk yang akan menangis sepanjang tahun. Bahkan, barangkali, berpedih hati seumur hidupnya karena kehilangan yang tak mungkin dapat digantikan apa pun.

Seperti anak kucing, bintang-bintang yang membuat harga diri menciut, berlompatan seluruh penjuru dunia, hanya untuk berebut sebuah bola dalam World Cup 2006. Dada manusia penontonnya yang fanatik, gemeletuk setiap hari, terbawa oleh emosi dalam penantian kapan jala gawang lawan akan digetarkan bola yang diperebutkan selama 90 menit dengan segala macam taktik dan gaya. Semua tersihir sampai lupa daratan karena alangkah sulitnya untuk menendang sebuah bola saja.

Kebangsaan, agama, panutan politik, dan strata sosial yang biasanya begitu menyekat manusia sehingga bisa bunuh-bunuhan di dalam keadaan yang normal, melempem. Bola sudah mengoyak batas yang selama ini menjadi kendala manusia untuk bersaudara. Bola membawa perdamaian yang selama ini dikejar habis, tapi tanpa ada hasil oleh berbagai kedok usaha kemanusiaan yang buntut-buntutnya malah menyulut perang juga. Apa yang dirindukan John Lennon dalam lagu Imagine menjadi kenyataan dalam World Cup walau hanya satu bulan.

Tanpa ada setetes darah Jepang di tubuhnya, tanpa ada jalinan pertemanan atau kaitan akademis, seorang dosen di Universitas Brawijaya Malang menulis: "Semalam saya sempat sedih, Jepang tak kuasa menghadang Australia yang memang garang." Sementara seorang penjual tempe dengan muka bersinar melayani langganannya di perumahan Astya Puri, Jakarta, dan royal memberikan tambahan tempe karena Korea berhasil menghajar kesebelasan Togo 2-1. Padahal, letak Korea dalam peta saja dia tak tahu.

World Cup sudah pantas untuk dinobatkan sebagai pahlawan. Permainan yang kini paling membuat manusia "gila" itu telah melakukan diplomasi dan transformasi budaya yang setara dengan kiprah para negarawan-budayawan yang pernah mendapat hadiah nobel perdamaian. Dan, yang sangat penting adalah World Cup bukan seseorang, bukan juga sebuah pihak, aliran, negara atau ideologi, tetapi sebuah peristiwa manusia seluruh dunia. World Cup sudah menjadi sebuah tantangan terhadap orientasi pemberian hadiah yang selama ini selalu dikaitkan dengan orang. World Cup adalah penggembosan terhadap kultus, baik kultus individu, kultus ideologi, maupun kultus keyakinan.

Memang, kekerasan juga sudah muncul sebagai bagian dari taifun sepak bola. Seorang pemain ditembak oleh pemujanya yang merasa kecewa. Para pendukung fanatik menjadi edan-brutal, melakukan penganiayaan, perusakan, dan pelanggaran hukum ketika matanya sudah gelap. Sejarah sudah mencatat sepak bola pun berdarah. Tetapi, apa yang tidak berdarah? Keyakinan saja sudah berdarah dan terpakai oleh oknum-oknum tertentu untuk membenarkan yang mau dijadikan paling benar.

Yang sangat menarik adalah sepak bola boleh disentuh setiap orang dengan gampang. Dari presiden sampai bintang selebriti dan kere. Tidak ada yang menjadi bos yang memonopolinya. Meskipun menyangkut omzet yang triliunan, sepak bola adalah permainan yang paling murah. Bahkan, tanpa ada bola, hanya sebuah jeruk Bali, permainan bisa dilaksanakan.

Kebesaran sebuah negara tak berarti juga sepak bolanya maju. Jumlah penduduk bukan ukuran. Bahkan, keampuhan ekonomi untuk membeli triliunan bola, membuat lapangan bola, membangun stadion bola, mendirikan sekolah, liga, dan membayar pemain-pemain bola profesional tak membuat sebuah negara langsung menjadi juara dalam World Cup.

Sepak bola adalah sebuah terobosan yang memperolokkan teknologi, ekonomi, kekuatan politik, dan sebagainya yang selama ini menjadi berhala-berhala yang mengendalikan dunia. Bukan hanya duit dan senjata yang menentukan jalannya sejarah manusia, tetapi juga World Cup. Memang bukan hanya sepak bola, tapi semua olahraga yang menjadi semacam revolusi budaya dalam dunia. Namun, di antara semua cabang olahraga itu, World Cup yang paling "heboh" mengendalikan saraf manusia di seluruh dunia.

Kita tak habis pikir, mengapa orang berebut mau pergi ke Jerman. Padahal, apa yang terjadi di situ sudah langsung tertayang di televisi, tanpa harus membelanjakan ribuan dolar dan berdesakan di antara penonton. Semuanya tersaji bahkan dengan sangat mewah dan memanjakan. Kamera televisi membawa pemirsa ke kaki pemain, ke wajahnya, ke reaksi pelatih, dan ke bola yang menghantam jala, yang tak semuanya bisa tertangkap bila menonton langsung. Toh orang masih ngotot datang. Kehabisan karcis pun jadi, asal bisa menonton di luar stadion. Minimal di atas tanah yang sedang dipijak oleh para pemain.

Inilah misteri World Cup yang tak masuk akalnya dalil ekonomi. Orang sudah dibuat tidak peduli lagi pada duit oleh bola. Doku di-KO karena bukan uanglah selamanya, apalagi satu-satunya tujuan terpenting manusia. Kepuasan hati, kebahagiaan batin, kenyamanan pikiran adalah segala-galanya. Sepak bola menyadarkan kita kembali kepada satu hal yang sudah sering dilupakan, yakni rasa. Rasalah yang sudah dikembalikan oleh World Cup sehingga permainan menyepak bola itu menjadi terapi universal yang mengobati penyakit dunia.

Tetapi, ada syaratnya. Sepak bola tetap hanya sepak bola apabila hanya dilihat sebagai sepak bola. Peristiwa World Cup yang berlangsung 4 tahun sekali menjadi tak ada artinya kalau dipotong hanya saat pertandingan final. Sebagai terapi rasa, mukjizatnya akan hilang. Pertandingan final hanya sebuah pertandingan yang sama saja dengan judi karena akhirnya hanya kalah atau menang.

World Cup adalah sebuah peristiwa yang berlangsung selama 4 tahun terus-menerus. Dari masa pasca-World Cup sampai ke awal babak penyisihan. Dan, ketika kemudian sampai ke perhelatan puncak, World Cup menjadi sebuah prosesi yang panjang. Hanya, mereka yang mengikuti sejak awal akan dapat merasakan sentuhannya yang luar biasa.

Perjalanan Korea sampai mengalahkan Togo 2-1 adalah sebuah langkah maraton. Dan, siapa pun nanti yang berlaga di final untuk memperebutkan predikat juara adalah sebuah puncak gunung yang mencatat perjalanan yang penuh kegigihan, kegagahan, dan upaya manusia-manusia pendukungnya, baik sebagai individu maupun tim.

Menonton World Cup baru benar-benar menonton bila menekuni seluruh prosesnya. Bila di babak final nanti ternyata bukan kesebelasan yang kita jagokan berlaga, tidak ada yang harus dikecewakan. Bahkan, bila duel itu tidak dipersembahkan oleh bintang-bintang pujaan kita karena mereka sudah dipentung kartu merah, perhelatan itu masih akan tetap merupakan sebuah puncak. World Cup bukan hanya pertandingan, tetapi sebuah prosesi, terapi, dan penggembosan. Sebuah upaya perdamaian dan penegakan kemanusiaan. (*)
Jakarta 14 Juni 06
*) Putu Wijaya, budayawan, tinggal di Jakarta

se(X)pak bola!!!!!

Saturday, June 10th, 2006

*Oleh Moammar Emka

Apa hubungan sepak bola dengan seks? Atau, malah tidak ada hubungannya sama sekali? Kalau boleh memilih jawaban, saya lebih suka menjawab sangat dekat hubungan di antara keduanya. Sederhana, untuk mendapatkan seks yang oke, artinya bisa mencapai klimaks yang fantastis, hal pertama yang dibutuhkan adalah fisik yang prima. Nah, rasa-rasanya mustahil seorang pria bisa mempunyai tubuh yang bugar, prima, dan bertenaga tanpa olahraga yang teratur.

Kalau dalam sepak bola ada dua babak: 2 X 45 menit, ritual hubungan seks pun -sesuai aturan main yang berlaku- mesti melewati tiga babak: foreplay, intercourse, dan afterplay. Jangan tanya soal waktu yang diperlukan untuk melewati tiga babak tersebut. Bisa sejam, dua jam, atau malah lebih.

Untuk foreplay saja misalnya, kalau pasangan pria dan wanita memilih menggunakan teori mandi kucing; ditambah seks oral saja, paling tidak butuh waktu sekitar 10-15 menit. Belum lagi kalau didahului adegan lapdance -menari-nari di atas pangkuan-, bisa-bisa menghabiskan waktu 20 menit.

Ketika masuk pada babak intercoursing, standar normalnya, seorang pria membutuhkan sedikitnya 300 dorongan. Itu berarti waktu yang diperlukan bisa sekitar 7-10 menit. Tapi, beberapa pria yang masuk kategori "luar biasa" bisa melakukan dorongan sebanyak 600 sampai 1.000 kali baru bisa ejakulasi.

Babak afterplay biasanya memakan waktu yang paling sedikit. Karena yang diperlukan paling-paling hanya kissing atau saling peluk setelah aktivitas intercoursing berakhir. 1 sampai 5 menit, mungkin sudah cukup.Kalau dihitung-hitung, satu kali hubungan seks, rentang waktu yang dibutuhkan bisa 1-2 jam. Semua sangat bergantung kepada kekuatan dan fisik yang prima. Bagaimana mungkin pria bisa melakukan 600 dorongan kalau ternyata fisiknya loyo. Bagaimana seorang suami bisa membuat istri merasakan multiple-orgasm dalam satu kali hubungan seks -entah tiga atau empat kali- kalau tidak didukung oleh badan yang bugar.

Makanya, saya selalu percaya, sosok seperti Frank Lampard yang nyaris tak pernah absen bermain selama 2 X 45 menit saat membela Chelsea sangat mungkin hebat di tempat tidur. Saya juga tak ragu untuk mengatakan, Ronaldinho bisa melakukan 600 dorongan setiap berhubungan seks, bahkan mungkin lebih.Memang, belum ada bukti konkret yang menyebutkan soal kekuatan seks Frank Lampard dan Ronaldinho. Tapi, kalau melihat aksi mereka di lapangan, mulai berlari tanpa henti mengitari lebar lapangan, melakukan umpan lambung, menggiring, tackling, sampai berebut bola di udara, saya yakin 99 persen, mereka juga sangat hebat saat bermain di ranjang. Wong di lapangan sepak bola yang lebar dan panjang saja jago, apalagi di lapangan yang lebarnya tak lebih 2 X 3 meter. Skill punya, fisik lebih dari memadai. Dua kombinasi yang pas untuk diterapkan saat melakukan foreplay, intercourse, dan afterplay.

Lagipula, berhubungan seks sebelum bermain bola bisa membuat performa lebih fresh dan bugar. Paling tidak, itu dianjurkan pelatih Brazil untuk World Cup 2006 Carlos Alberto Pereira kepada anak asuhnya. Jangan-jangan, rahasia sukses permainan cantik yang selalu ditunjukkan Ronaldo, Robinho, bahkan Kaka, selain karena talenta, mungkin salah satu di antaranya adalah berhubungan seks sebelum merumput di lapangan.Jadi, mungkin tidaklah salah, Se(X)pak Bola -maksudnya seks dan sepak bola, kalau mau dirunut secara rinci, mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Coba saja kita tanya, kenapa pacar atau istri para pemain bola rata-rata cantik dan seksi. Kaya, mungkin jadi salah satu faktor. Tapi, saya lebih percaya faktor para pemain bola hebat dalam permainan seks, itu yang lebih utama. Pantas saja, Maradona diam-diam punya istri gelap (atau mungkin cuma pasangan one nite stand) saat masih bermain di Napoli, Italia, dan tak tanggung-tanggung, hubungan itu berbuah Maradona Junior. Cespleng dan tok cer!

*Penulis buku best seller Jakarta Undercover